Pantai ini bagus terutama untuk terapi orang sakit salah satunya lumpuh karena stroke dan juga kesehatan badan terutama mengurangi kelebihan ukuran perut alias buncit dan banyak khasiat lain dengan cara mengubur diri dalam pasir hitam yang kemungkinan memiliki kandungan mineral dan zat lain... Mohon perhatian nya untuk pemko banda Aceh tidak hanya sebagai tempat untuk terapi tetapi juga sebagai objek wisata disamping wisata religi makan Syi'ah kuala, pantai ini kurang terjaga kebersihannya terutama dari pengujung yang kurang kesadaran menjaga kebersihan karena banyak sampah bertebaran sangat disayangkan pantai ini sangat potensial sebagai objek wisata selain jarak yang dekat dengan kita selain ulee lheu juga daya tarik dari manfaat kesehatan dari pantai ini, juga kebersihan kurang terjaga karena bertebaran "ranjau" Kotoran lembu/sapi yang berkeliaran bebas terutama pagi berjemur di pantai tidak mau kalah eksis dengan manusia dan tidak hanya masalah eksis berjemurnya saja namun eksis dalam hal "meninggalkan jejak" juga tidak mau kalah dengan manusia... Sapi ke pantai, setelah berjemur meningggalkan jejak "ranjau" Kotorannya, tak jauh beda juga manusia, alangkah malunya kita jika perangai kita tak jauh beda dengan lembu/sapi dalam urusan "meninggalkan jejak" Kotoran berupa SAMPAH... wahai manusia terutama penikmat pantai di Banda Aceh jagalah kebersihan, jangan kalian buat diri kalian sama seperti binatang dalam hal Kebersihan... Berhentilah mengikuti langkah Binatang yang meninggalkan jejak berupa kotoran dan sampah!
Pemko Banda Aceh mohon perhatiannya, pantai ini alangkah baiknya dikelola dengan bijaksana mengikutsertakan masyarakat setempat utk kelola pantai dan jaga kebersihan, sosialisaikan dengan gencar jaga kebersihan dan kelola sampah dengan baik Insya Allah wisata pantai Banda Aceh semakin maju, saya saran utk sepanjang garis pantai yang berpasir dipasang pagar kawat supaya tidak masuk lembu/sapi. Dibuatkan beberapa pintu masuk yang dipasangi kawat per/pegas supaya ketika terbuka sedikit langsung otomatis tertutup tidak membiarkan celah binatang untuk masuk menebar pesona "jejak" nya, atau bisa ditanam barang pohon jarak dan dipasang kawat kalau mau "low budget". SAYA SANGAT PRIHATIN DENGAN KONDISI PANTAI SYIAH KUALA SAMPA SAAT INI. MOHON BANTUAN NYA PEMKO BANDA ACEH...
Read moreFirst of all, the beach is not intended for visit. There is no convenient access (such as stairs or walkways) to it. This beach is not maintained at all. Cow dungs are everywhere making it an irksome place to bring family members. The putrid dung smells are always in the air. The steep beach is also exposed directly to the open sea, which is not safe for children, while the significant waves rendered the seawater murky. This is ultimately "poorman's...
Read moreAceh memiliki pantai-pantai indah. Satu di antaranya spesial, karena traveler bisa sekaligus berziarah, yakni di Pantai Syiah Kuala. Pantai Syiah Kuala berada tak jauh dari Banda Aceh, sekitar 3 km. Namanya diambil dari seorang ulama Aceh yang sohor hingga ke luar negeri dan telah meninggal dunia.Kisah itu bermula dari tsunami berketinggian 30 meter pada akhir tahun 2004 yang menerjang kawasan itu. Kendati tsunami meluluhlantakkan Aceh, namun  makam Syiah Kuala utuh dan tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Padahal, makamnya berada di bibir pantai.Sejak itu, makam Syiah Kuala ramai dikunjungi peziarah, baik pelancong Indonesia, negeri Malaysia maupun dari negara lain. Oleh pemerintah Aceh, makam itu pun menjadi salah satu rekomendasi wisata religi. Nama ulama dan cendekia ini sebenarnya adalah Teungku Syekh Abdurrauf. Karena mengelola sekolah agama Islam di muara Sungai Aceh, jadilah ulama ini dikenal dengan sebutan Teungku (Guru) Syekh di Kuala, dalam literasi berbahasa Indonesia disebut Syiah Kuala. Namanya diabadikan menjadi nama Universitas di Aceh yakni Universitas Syiah Kuala.Ulama ini adalah Mufti (Penasehat Negara) Kesultanan Aceh yang saat itu dipimpin oleh seorang wanita bernama Sri Ratu Safiatuddin yang memerintah antara...
Read more