Asal mula karesidenan kedu ini tidak dapat terlepas dari kisah pengembaraan Joko Teguh dalam menemukan panembahan Hardo Pikukuh untuk menimba ilmu. singkat cerita dalam perjalannnya Joko teguh bertemu dengan saudagar klaya bernama Ngembuh Kawuryan yang sedang berburu obat untuk kedua putrinya yang lumpuh. kemudian bertemu dengan Joko teguh yang dapat mengobati kedua putrinya tersebut dengan telur burung pipit yang merupakan bekal pemberian sang ibu. Karena Joko teguh bersedia membantu dan akhirnya kedua putri saudagar Ngembah sembuh, maka Joko Teguh di hadiahkan seekor kuda sembrani dan kedua putrinya dihadiahkan untuk dijadikan istri. setelah kedua putrinya dinikahkan dengan Joko Teguh, akhirnya joko teguh melanjutkan perjalanan ke tlatah Ngargosari tempat panembahan Hardo pikukuh dan seorang putrinya yang sedang mengalami kebutaan. Berangkatlah ia menggunakan kuda sembrani bersama kedua orang istrinya. Sesampainya di tempat Panembahan Hardo Pikukuh, sang putri kaget mendengar kedtangan kuda sembarni yang ditumpangi oleh Joko Teguh, maka syaraf matanya kembali reflex mulai berfungsi kembali. Pada akhirnya sang Joko Teguh dapat menyembuhkan sang putri Panembahan Hardo Pikukuh, kemudian keduanya dinikahkan. Singkat cerita kedua putri sang saudagar kaya ngembah kawuryan kembali ke rumah ngembah kawuryan karena tidak bersedia diangkat anak oleh Panembahan. Alkhirnya hiduplah Joko Teguh dengan Dewi sri lintang Katon. Keduanya diberikan tanah perdikan bernama "Kembang Madu" oleh panembahan Hardo Pikukuh yang awalnya tandus disulap menjadi tanah yang subuh karena kerja keras dan ikhtiar Joko Teguh. Adapun Nama Joko Teguh diberikan gelar sebagai Panembahan Makukuhan oleh panembahan Hardo Pikukuh. Panembahan Makukuhan sendiri banyak mengajarkan tentang ilmu pertanian dan ilmu agama di sekitar wilayah karesidenan kedu. nama kedu sedniri berasal dari singakatan "Kembang (ke) dan Madu (du). Pada saat wafat, panembahan makukuhan dimakamkan di sekitar area gunung sumbing karena masyarakat percaya bahwa daerah sekitar makam kan subur dan makmur. Karesidenan kedu sendiri terdiri dari wilayah Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, kebumen, serta Purworejo. Sumber: Berita Yudha, 28 Agustus 1979 hal 10 kol 4 . Koleksi Surat Kabar langka terjilid Perpusnas RI Salemba...
Read moremakam Ki Ageng Makukuhan, yang berada di Jl. Makukuhan, dukuh Tawangsari Kedu, Kec. Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah Komplek makam beliau kurang lebih 400 meter dari jalan raya dan harus di tempuh dengan berjalan kaki jika menggunakan bus besar. Sesampainya di pintu gerbang utama, para peziarah bisa istirahat sejenak sembari mengambil air wudhu. Tidak lupa untuk ketua rombongan diharuskan singgah terlebih dahulu ke pengurus makam. Selanjutnya setelah berjalan beberapa meter, peziarah akan melihat pelataran yang luas dan lapang. Dipelataran ini terdapat batu prasasti bertuliskan “Makam Ki Ageng makukuhan” yang dibuat oleh dinas Kab Temanggung. Dari arah sini, terlihat undakan anak tangga menuju makam. terlihat di kaanan dan kiri terdapat pepohonan yang besar dan rindang. Makam Ki Ageng Makukuhan dinaungi sebuah cungkup yang tidak terlalu besar, cungkup tersebuut berada di puncak tertinggi area makam. Sementara pada bagian dalam makam, di tutupi tirai berwarna putih dan kubah kayu berwarnan coklat. Disekitar nisan beliau terdapat beberapa makam yang merupakan keluarga dan kerabat dekat. Nah untuk mengetahui siapakah beliau dan apa saja karomah beliau, Kunjungi Channel Youtube...
Read moremakam KH Abdullah Taqwim atau Ki Ageng Makukuhan, mempunyai ikatan sejarah dengan babat alas kelurahan wujil Kecamatan Bergas Kab semarang yakni beliau dipercaya sebagai Dai yang membantu menyebarkan Islam di daerah Wujil tersebut. sehingga setiap tahunnya diadakan kegiatan rutin ziarah ke maqam beliau oleh warga Krajan Wujil sebagai salah satu rangkaian kegiatan merti desa atau merti bumi di Krajan wujil sebagai bentuk syukur dan terima kasih kepada beliau yg membawa ajaran islam yang damai bagi warga wujil hingga...
Read more