stasiun ini dibangun pada zaman kolonial Belanda pada th 1890.ditutup pada tahun 2004.
Sabtu, 23 November 1947, dari stasiun ini tertoreh sejarah kelam perjuangan masyarakat bondowoso,
Beragam literasi sejarah mengisahkan, kejadian tersebut berawal saat beberapa bulan sebelumnya pasukan Belanda mendarat di kawasan Pasir Putih Situbondo, kemudian melakukan agresi militernya hingga ke Bondowoso.
Kedatangan pasukan Belanda disambut dengan perjuangan heroik pejuang Bondowoso. Karena kalah persenjataan, pejuang Bondowoso berhasil dipukul mundur. Namun, kegigihan karena tidak ingin dijajah kembali membuat para pejuang menggunakan taktik perang gerilya.
Taktik tersebut cukup jitu. Pejuang Bondowoso nyaris memenangkan pertempuran. Saat itulah, tentara Belanda menggunakan politik devide et impera.
Adu domba dijalankan. Banyak tokoh penting yang ditangkap. Belanda juga menggunakan mata-mata dari bangsa pribumi untuk menangkapi para pejuang Bondowoso.
Dari penangkapan besar-besaran tersebut, semua rumah tahanan di hampir setiap kecamatan penuh sesak. Sedikitnya 637 tentara dan pejuang rakyat meringkuk di sel tahanan Belanda. Melihat banyaknya tahanan, diputuskan untuk memindahkan beberapa tahanan, khususnya untuk kasus pelanggaran berat ke Surabaya
Pagi buta tahanan yang tercatat dibangunkan secara kasar lalu dikumpulkan di depan penjara. Rincian tahanan adalah sebagai berikut: 20 rakyat desa, 30 dari laskar rakyat, 30 dari TRI, serta 20 polisi.
Pada jam 05.30 WIB tahanan tiba di Stasiun Kereta Api Bondowoso. Sebanyak 32 orang masuk gerbong pertama yang bernomor GR 5769; 30 oarang ke gerbong kedua yang bernomor GR 4416, sisanya berebutan masuk ke gerbong yang terakhir bernomor GR 10152 karena panjang dan masih baru.
Pada jam 07.00 WIB kereta dari Situbondo datang. maka, saat itu juga gerbong digandeng, setelah gerbong penuh dikunci, keadaan menjdi gelap gulita dan udara tersa panas walaupun masih pagi. Jam 07.30 kereta bergerak menuju Surabaya.
Ketika tiba di Stasiun Kalisat, gerbong tahanan harus menunggu kereta dari banyuwangi. Selama dua jam para tahanan berada dalam terik matahari. Akhirnya pada jam 10.30 WIB kereta baru berangkat dari Jember ke Probolinggo. Setelah meningglkan Jember di siang hari, suasana gerbong bagaikan didalam neraka karena atap dan dinding gerbong terbuat dari plat baja.Banyak terjadi peristiwa diluar batas kemanusiaan, misalnya guna mempertahankan hidup dari kehausan sebagian para tahanan terpaksa meminum air kencing tahanan yang lainnya.
Mendekati Stasiun Jatiroto, Allah SWT menebarkan rahmat-NYA. Hujan yang cukup deras dimanfaatkan para tahanan yang masih hidup untuk meneguk tetes demi tetes air dengan menjilat tetesan air yang berasal dari lubang-lubang kecil.Tidak demikian halnya dengan gerbong ketiga GR10152. karena masih baru, para tahanan tidak mendapatkan tetesan air sedikitpun. Ketika sampai di Surabaya, dalam gerbong ketiga (GR10152) tidak ada satupun yang hidup.
Setelah menempuh perjalanan selama 16 jam, Gerbong Maut sampai di Stasiun Wonokromo. Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Setelah didata, di gerbong I No. GR 5769 sebanyak 5 sakit keras, 27 orang sehat tapi kondisi lemas lunglai, Gerbong II No. GR.4416 sebanyak 8 orang meninggal, 6 orang sehat, dan di Gerbong III No. GR. 10152 seluruh tawanan sebanyak 38 orang meninngal semua.
Para tahanan yang sehat dipaksa menganggkut temannya yang sudah meninngal. Semua jenazah diletakkan secara sejajar. Setelah dievakuasi, lalu diangkut ke truk yang telah disediakan. Jenazah harus diangkut dengan sangat hati-hati sebab kalau tidak maka daging jenazah akan mengelupas akibat kepanasan
tanggal 22 November 1949 menjelang Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, pada 27 November 1949,tawanan dibebaskan ,
[almarhum sumin -sentong sukowiryo bondowoso menjadi bagian saksi pelaku sejarah yg selamat dalam sejarah kelam gerbong maut ]