Cagar Alam Gunung Mutis terkenal dengan gunung-gunung batu marmernya yang oleh masyarakat setempat disebut Faut Kanaf atau batu nama. Kawasan wisata ini berjarak sekitar 140 km dari timur laut dari Kota Kupang dan memiliki luas sekitar 12.000 hektar. Kawasan cagar alam ini dihuni oleh salah satu suku tertua di NTT yaitu Suku Dawan.
Kawasan Wisata Gunung Mutis memiliki tipe vegetasi yang merupakan perwakilan hutan homogen dataran tinggi. Kawasan ini juga didominasi berbagai jenis ampupu (Eucalyptus urophylla) dan cendana (Santalum album). Selain kedua jenis tumbuhan itu, masih ada beragam jenis lain seperti paku-pakuan, rumput-rumputan, dll.
Di kawasan ini pengunjung bisa menjumpai rusa Timor (Cervus timorensis), kuskus, biawak timor (Varanus timorensis), ular sanca Timor (Phyton timorensis), punai Timor (Treon psittacea), betet Timor (Apromictus jonguilaceus), pergam Timor (Ducula cineracea), dll.
Hal lain yang menarik untuk disaksikan adalah bagaimana suku-suku asli kawasan ini memanfaatkan dahan dan ranting pohon-pohon besar untuk membuatkan rumah bagi lebah hutan penghasil madu. Bagi masyarakat setempat, lebah hutan membantu mereka menopang kehidupan ekonomi dari hasil ternak dan pertanian.
Madu hutan Gunung Mutis adalah produk lebah jenis Apis dorsata di kawasan sekitar Cagar Alam Gunung Mutis di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Mereka menyerap nectar (sari) bunga pohon Eucalyptus alba saat mekar pada bulan Juni-Juli serta Desember-Januari, membangun sarang di kawasan itu dan memproduksi madu kaya manfaat.
Saat ini, madu alam Gunung Mutis dipanen oleh 176 keluarga dalam sepuluh kelompok tani yang bergabung dalam Jaringan Kelompok Masyarakat Mutis-Babnai. Jaringan ini membantu pemasaran produk madu ke kota dengan harga yang adil.
Pada saat panen, sarang lebah yang diambil dari pohon lalu diiris dan ditiriskan pada media penyaring yang terbuat dari baja tahan karat, tanpa diperas. Proses tanpa pemerasan ini menghasilkan madu organik dengan kadar air yang pas yaitu sekitar 21%, dan juga mengandung enzim diastase positif yang berguna untuk kesehatan.
Saat ini madu alam Gunung Mutis telah dipasarkan di kota Soe dan Kupang. Produk ini dijual di sejumlah toko dan koperasi pada beberapa kantor pemerintah.
Secara keseluruhan keadaan topografi Kelompok Hutan Mutis adalah berat dengan relief berbukit sampai bergunung dan keadaan lereng miring sampai curam. Sedangkan keadaan lapangan kawasan Cagar Alam Gunung Mutis dan sekitarnya bergelombang sampai bergunung, sebagian besar wilayahnya mempunyai kemiringan 60% ke atas . Puncak tertinggi adalah Gunung Mutis dengan ketinggian 2.427 meter dpl.
Gunung Mutis dan sekitarnya merupakan daerah terbasah di Pulau Timor, hujan turun hampir setiap bulan dengan frekuensi hujan tertinggi terjadi pada bulan November sampai Juli ,Suhu berkisar antara 14βC β 29βC, dan pada kondisi ektrim dapat turun hingga 9βC . Angin kencang berkecepatan tinggi terjadi pada bulan November sampai Maret.
Keadaan hujan yang turun hampir setiap bulan sepanjang tahun, memungkinkan kawasan Cagar Alam Gunung Mutis ini menjadi sumber air utama bagi tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) besar di Pulau Timor yaitu Noelmina dan Noel Benain di bagian selatan dan Noel Fail di bagian utara. Drainase aliran sungainya berpola dendritis (Noel Mina dan Noel Benain) sebagai akibat kompleksitas permukaan di bagian selatan dan pola pararel (Noel Fail) akibat kelerengan yang relatif seragam di...
Β Β Β Read moreGunung Mutis merupakan satu2nya gunung yang tertinggi didaratan pulau Timor, tepatnta di kecamatan Fatumnasi kabupaten TTS Nusa Tenggara Timur. Tinggi gunung ini sekitar 2400 m dpl. Untuk mencapai kaki gunung ini dari kota Soe menggunakan mobil diperlukan waktu kurang lebih 3 jam. Kondisi jalannya cukup baik untuk mobil.. Lebar dan sudah pengerasan.. Dibeberapa titik ada jalannan yang rusak namun masih bisa dilalui dgn hati. Namun begitu.. Ketika sampai di digunung ini.. Semua rasa capek terbayar.. Saking bagusnya dan indahnya alam pegunungannya. Gunung Mutis ini sudah dilindungi oleh negara sudah dipugar menjadi Cagar Alam dan sudah merupakan jadi desnitasi pencinta alam.. Hutannya banyak ditumbuhi pohon2 jenis ampupu ( acasia alba dan acasia deglupta) dan pinus atau cemara yang diameter pohonnya besar dan tingginya mencapai lebih 25 meter. Banyak pohon yang sudah tua sehingga menyerupai pohon -pohon yang dibonsai oleh alam sendiri...cantik sekali.. Dari gunung ini juga sebagai sumber mata air bagi masyarakat dua kabupaten yaitu kabupaten TTS sendiri dan Kabupaten TTU. Banyak orang datang ke sini lintas alam mendski sampai puncak dengan membawa peralatan tenda untuk menginap sebelum pergi ke puncak saat pagi hari sebelum matahari terbit. Hamparan bukit yang hijau dibawah sejuknya pohon yang tinggi dan rindang sangat memanjakan mata kita.. Luar biasa indahnya. Cuaca sering mendung dan di sini sangat dingin sekali karena awan kabut lebih sering meliputi alamnya.. Biarpun siang hari dan matahari cerah.. tetap terasa dingin sekali. Jadi harus membawa jaket tebal. Masyarakatnya ramah.. Kebanyakan penduduk nya asli Timor etnis Molo. Bahasanya Dawan. Tetapi mereka sangat mengerti bahasa Indonesia. Masyarakat kebanyakan petani.. Sekitar bulan Juni ni sampai Juli banyak jeruk manis dan jeruk Bali. Masyarakat setempat masih menggunakan kuda sebagai alat transportasi untuk mencapai antar desa sekitar gunung ini.. karena tdk bisa dilalui kendaraan. Sangat unik dan berkesan sekali ketika menyaksikan mereka melintasi alam pegunungan sambil kuda memikul hasil pertanian menuju ibu kota kecamatan. Sungguh luar biasa...masyarakat setempat sangat peduli dan ketat mereka menjaga alamnya. Sangat disarankan bagi orang yang bepergian ketempat ini.. Mohon agar menjaga kebersihan alam ini. Sehingga kelestarian alam bisa terjaga dengan baik dan kita masih bisa wariskan kepada anak cucu kita. Dan Tuhan sangat senang melihat umatnya bisa menghargai...
Β Β Β Read moreI wasn't able to reach the peak due to the unforeseen weather that had accumulated during the hike, The trail is very much challenging for beginners as sometimes there's not an exact path and you may have to walk through plants along with the different steepness. But, the forest and the plains are beautiful and untouched by humans. You will often meet with cows but, rarely will you meet with the locals while hiking unless you're at the base. You will need a local from the nearby town, Nenas to guide you to the peak and get yourself ready for any type of situation that arises during the climb. But, the scenery and biodiversity of while hiking up the mountain is 10/10. I guarantee giving it a try to hike the highest peak of the Timor Island! :D
I plan on going back to hike again when...
Β Β Β Read more