Benteng Tabanio atau Fort Tabanio adalah bekas benteng historis sebagai pusat pertahanan militer Belanda yang terletak di Distrik Tabanio (sekarang Desa Tabanio), Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Menurut informasi benteng dibangun pada tahun 1789 dan benteng berbatasan dengan Sungai Tabanio di sebelah utara dan timur, di sebelah selatan berbatasan dengan pemukiman warga, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa. Benteng ini berada pada areal seluas 20.000 m². Penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin, telah dilakukan selama bertahun-tahun dalam tiga tahap penggalian atau ekskavasi, guna mengetahui sejauh mana struktur Benteng Tabanio.
Sisa-sisa Benteng Tabanio yang dahulunya pernah berjaya di tanah Takisung kini tidak dapat diidentifikasi lagi dari segi bentuk. Bekas ekskavasi yang tadinya dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin sudah tertutup dengan tanah dan ditumbuhi rumput gajah. Pecahan bata yang menjadi bukti reruntuhan telah diambil oleh masyarakat guna kepentingan membangun rumah dan masjid. Menurut catatan dan pengamatan, diperkirakan luas Benteng 20.000 meter persegi, panjang 200 dan lebar 100 meter (200 X 100 meter) yang dikelilingi oleh parit (sungai kecil buatan) di tepi Sungai Tabanio. Berdasarkan dari lukisan Benteng Tabanio, arah hadap mengarah ke pesisir pantai, yaitu Laut Jawa dan kemungkinan meriam Benteng Tabanio yang saat ini disimpan pada museum juga menghadap ke arah yang sama.
Lingkungan sekitar benteng sudah mulai dipadati dengan rumah penduduk, bahkan sisa Bastion (Barat) berada di bawah pondasi rumah warga. Sangat disayangkan lokasi bersejarah yang menorehkan Perang Kerajaan Banjar dan sebagai pembuktian kekuatan Kerajaan Banjar mengalahkan Belanda tidak mendapat perhatian yang maksimal. Melihat lingkungan benteng yang asri dengan rumput gajah di setiap jengkalnya, Benteng Tabanio menjadi objek wisata bagi para masyarakat luar daerah dan para siswa/siswi yang hendak berfoto di lokasi tersebut. Selain itu, lingkungan sekitar benteng difungsikan sebagai tempat menyimpan ternak.
Beberapa titik gundukan tanah, merupakan bekas-bekas Bastion dari Benteng Tabanio. Menurut Bapak Masran yang pernah menjadi Juru Pelihara BPCB, tinggi bastion pada awalnya mencapai kurang lebih tiga meter dengan susunan bata yang saling mengikat dan masih ditemukan sisa-sisa peluru terutama pada Bastion yang berhadapan dengan Laut Jawa (Bastion Barat). Tidak banyak yang dapat dideskripsikan untuk benteng tersebut, karena kondisinya hampir rata dengan tanah. Penelusuran sejarah memberi pencerahan mengenai bentuk dari Benteng Tabanio, dengan lukisan tiruan yang disimpan di museum. Pada lukisan tersebut memperlihatkan desain bagian depan dari Benteng Tabanio. Kondisi Benteng Tabanio saat ini sudah tertutup oleh tanah dan rumput, serta dikelilingi dengan pemukiman warga. Di lokasi ini masih dapat ditemukan beberapa tinggalan, diantaranya batu bata dan bekas peluru....
Read moreTempat yang patut dikunjungi karena panorama alam nya yang indah serta pesisir pantai yang menawan serta tanaman mangrove...
Read moreTempat.y bgus, da tmpt untuk istirahat. Da tmpat makan.y jga. Cuma syang air.y...
Read more