Mount Kerinci, located in the heart of Sumatra, Indonesia, is a true gem for hiking enthusiasts. As someone who has climbed to the summit twice, I can confidently say that the experience is nothing short of breathtaking. The trail offers a challenging yet rewarding journey through lush forests, steep slopes, and rocky terrain, culminating in a panoramic view of the surrounding mountains and valleys. The fresh mountain air and serene atmosphere provide a much-needed escape from the hustle and bustle of daily life.
The trail to the summit of Mount Kerinci is well-maintained, with markers and signs along the way to ensure that hikers stay on track. While it is a challenging climb, it is definitely doable for those with a moderate level of fitness and experience. The terrain varies from dense jungle to volcanic rocks, making each step an adventure. The final push to the summit is particularly grueling, but the views from the top are worth every bit of effort. On a clear day, you can see for miles around, taking in the beauty of the surrounding landscape.
One of the things that I appreciate most about Mount Kerinci is the lack of crowds. While it is a popular hiking destination, the trail is not overcrowded like some other well-known peaks. This means that you can truly immerse yourself in the beauty of nature and enjoy a sense of solitude as you make your way up the mountain. The locals are friendly and welcoming, and the nearby village of Kersik Tuo offers a glimpse into the traditional way of life in Sumatra. All in all, Mount Kerinci is a must-visit destination for anyone seeking an unforgettable hiking experience...
Read moreSatuan morfologi daerah G. Kerinci dapat dibagi menjadi :
Satuan Morfologi Perbukitan
Satuan morfologi ini menempati bagian daerah kaki gunungapi bagian selatan, berupa perbukitan yang bergelombang. Daerah ini tertutupi seluruhnya oleh batuan piroklastika jatuhan dan merupakan dasar graben volcano tektonik yang tertimbun hasil kegiatan letusan G. Kerinci (Djoharman1972). Sungai yang mengalir di daerah ini adalah S. Sangir, S. Air Putih, merupakan batas sebelah timur ; S. Aro, S. Padi, S. Panjang, S. Timbulun, Belandir di bagian utara dan di bagian selatan terdiri dari S. Kering, S. Kersik Tuo S. Deras Kanan dan S. Siulak Deras Kiri dan di bagian barat dibatasi oleh S. Lembar - Siulak Deras Kiri.
Satuan morfologi perbukitan tua
Satuan morfologi ini menempati bagian sebelah timur dan barat G. Kerinci. Bentuk lereng dari satuan ini sangat terjal (hampir tegak) membentuk suatu dinding yang sangat curam. Satuan morfologi ini merupakan bagian naik dari sistem sesar sumatera (horst) yang memanjang dari utara ke selatan. Puncak yang terdapat dalam satuan perbkitan tua bagian timur terdiri dari Bukit Ulu Batang Tandai (943 m); G. Selasi (2391 m); G. Mandurai Besar (2481 m), titik ketinggian tanpa nama dalam peta topografi (1956 m) ; (1574 m) dan G. Songka (1914 m). Puncak-punak yang terdapat dalam satuan morfologi perbukitan tua bagian barat terdiri dari Bukit Putus (893 m); Bukit Liki (1045,8 m); G. Hulu Sungai Kapur; G. Terembun (2577) m) dan G. Lintang (2218 m). Batuan penyusun satuan morfologi ini terdiri dari aliran lava dan piroklastika.
Satuan morfologi tubuh gunungapi
Menurut Van Bemmelen (1949) Gunungapi ini muncul di dalam suatu struktur graben yang merupakan bagian dari sesar Sumatera, Djoharman (1972) menyatakan bahwa tubuh gunungapi ini muncul di dasar suatu graben vulkano tektonik tegak lurus pada garis tektonik Bukit Barisan yang mengalami penurunan waktu patahan besar itu terjadi . Bagian puncak terdiri dari G. Merapi (3655 m), G. Elok (3649 m), bentuk ini mirip dengan bekas kawah lama ataupun sisa pematang lava. Puncak lereng sebelah baratdaya (3805 m) yang biasa disebet sebagai Pesanggrahan Pondok Bunga merupakan pinggiran kawah tertinggi dari kawah giat sekarang. Yang terendah dan paling luas dari kawah terletak sebelah tenggara dengan ketinggian 3620 meter, makin ke utara terdapat tonjolan-tonjolan kecil dengan ketinggian 3624 meter. Lereng sebelah barat laut jauh lebih sempit dengan ketinggian 3669 meter.
Stratigrafi
Stratigrafi batuan yang terdapat di sekitar G. Kerinci tersusun dari tua ke muda sebagai berikut:
Batuan yang berumur Paleozoikum - Mesozoikum terdapat di bagian utara komplek G. Kerinci, dengan dicirikan oleh bentuk morfologi yang kasar dan lembah-lembah yang dalam akibat erosi yang sangat berlanjut, tersusun oleh batuan sedimen dan metamorfosa dan intrusi batuan Granit.
Batuan berumur tersier, tersebar memanjang di sebelah barat dan timur dan selatan dengan arah umum barat daya timurlaut. Batuan ini tersusun dari batuan sedimen (batu pasir, lanau, tufa, batu gamping), yang tersebar di bagian selatan G. Kerinci. Batuan vulkanik tua yang tidak diketahui sumber asalnya tersebar di bagian barat dan timur G. Kerinci. Batuan Vulkanik tua ini terdiri dari Batuan Vulkanik Danau Tujuh dan Batuan Vulkanik Patah Sembilan.
Batuan Vulkanik G. Kerinci yang tersusun dari batuan Lava, piroklastik jatuhan, piroklastik aliran dan lahar. Satuan batuan ini terdiri dari beberapa kelompok batuan yang diuraiakan berdasarkan urutan stratigrafinya terbagi menjadi beberapa kelompok (dapat di lihat dalam peta Geologi G. Kerinci, disusun oleh M.S. Santoso dkk).
Batuan Vulkanik Kerinci
Penyebaran satuan ini dominannya berarah utara - selatan, sedangkan penyebaran kearah timur dan barat terhalang oleh Gunung Tujuh dan gunung Patah Sembilan.
Litologinya terdiri dari lava, aliran piroklastik, jatuhan piroklastik, lahar dan endapan permukaan. Morfologinya membentuk kerucut muda Kerinci dan kerucut parasit yang umumnya terdapat disekitar tubuh kerinci muda, seperti gunung Labuh, Mageger,...
Read morePuncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 mdpl. pengunjung dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah Kota Jambi, Padang dan Bengkulu. Samudera Hindia yang luas juga dapat terlihat dengan jelas. Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh.
Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009. Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura adalah gunung tertinggi di Sumatra, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi yang berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra.
Gunung Kerinci bisa dicapai lewat jalur darat melalui kota Jambi, kota Padang, Lubuk Linggau, dan Bengkulu. Ke empat rute ini mudah dijangkau, wisatawan atau pendaki bisa menggunakan bus umum atau travel dari Jambi, Padang, Lubuk Linggau, dan Bengkulu menjuju ke Sungai Penuh dan minta turun ke Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro. Bagi wisatawan yang tidak ingin menggunakan kendaraan umum perjalanan cukup panjang dari area perkotaan sekitar 7-9 jam.
Setelah sampai di desa Kersik Tuo wisatawan atau pendaki bisa berjalan menuju ke Pos penjagaan TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) selama 45 menit melintasi perkebunan teh. Pos ini sudah berada di ketinggian 1611 mdpl sehingga di sini sudah terasa sangat dingin. pendaki bisa menginap terlebih dahulu di kawasan Desa Kersik Tuo atau di daerah Kayu Aro. cukup banyak homestay dan bisa dipesan melalui aplikasi booking hotel secara online.
Gunung Kerinci terkenal sebagai gunung yang memiliki jalur pendakian yang cukup ekstream. Untuk itu persiapan fisik sangat diperlukan saat memutuskan untuk mendaki gunung ini.
Pertama pendaki harus berjalan dari Desa Kersik Tuo ke Pos penjagaan TNKS berupa perkebunan teh yang dapat ditempuh kurang lebih 45 menit. Setelah sampai di Pos penjagaan pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke Pondok R10 menuju Pintu Rimba di ketinggian 1.800 mdpl yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam dengan medan perkebunan penduduk sampai batas hutan. (Di sini terdapat shelter dan lokasi air kurang lebih 200 meter sebelah kiri). Dari Pintu Rimba pendaki akan melanjutkan perjalanan ke Pos Banku Panjang di ketinggian 1.909 mdpl dengan medan landai berupa hutan heterogen bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Dari Pos Bangu Panjang, pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke Batu Lumut. Jaraknya 2 km dan biasa ditempuh dalam waktu 45 menit dengan medan landai di ketinggian 2.000 mdpl. Selanjutnya dari Batu Lumur wisatawan dapat langsung ke Pos 1 dengan waktu tempuh 1,5 jam di ketinggian 2.225 mdpl. Pos 3 berada di ketinggian 2.510 mdpl dan dapat ditempuh 3 jam dari pos 2 berupa hutan dengan tubuhan paku-pakuan yang mendominasi. Di sini pendaki bisa beristirahat dan melihat kondisi hutan yang sedikit terbuka. Di Pos 3 pendaki bisa mendirikan tenda selain itu dari pos ini ke puncak hanya 4 jam saja. Dari Pos 3 menuju ke Pos 4 dapat ditempuh hanya 1,5 jam dengan jalur bekas aliran air. Di pos 4 cukup lapang dan mendirikan tenda. Dari Pos 4 menuju ke puncak medannya cukup ekstrem. Di jalur ini pendaki harus...
Read more