Kampung Laut Mosque is a mosque located in Kota Bharu, Kelantan. It is located in Nilam Puri opposite the University Malaya Academy of Islamic Studies campus branch Kelantan, 20km from the center of Kota Bharu City. According to oral traditions, centuries ago, missionaries sailed throughout the Malay Archipelago to spread Islam. In the 1730s, a group of missionaries through the East coast of Peninsular Malaysia on their way to Pattani in South Thailand to Java in Indonesia. Unfortunately their boat was leaked and had trouble. Missionaries in the boat swore that if they were taken safely to the beach, they would build a mosque immediately to commemorate the event. Their prayers were granted, and the missionaries landed at Kampung Laut, Tumpat. The original mosque is not what we see today. It is a basic structure with only four pillars supporting the three-storey roof made of leafy leaves. Its area is only 400 square feet in total. At the end of the 19th century, this mosque became an important religious center and the mosque was enlarged to include additional prayer rooms, roles, porches and towers. 20 pillars are built to support this additional build. This additional build uses the unique 'Tail Drop' technique. It's built from wood but does not use even a nail. The roof of his rumbia leaves replaced with...
Read moreMeski tak ada sejarah tertulis otentik tentang sejarah awal pembangunannya, Masjid Kampung Laut Kelantan disebut sebut sebagai Masjid tertua di Malaysia.[1] Masjid Kampung Laut adalah salah sebuah masjid kayu yang tertua di negeri Kelantan dan juga di Malaysia.Dalam abad ke-18,Kelantan menjadi tumpuan orang-orang Campa yang datang belajar dan mendalami hukum-hukum Islam termasuklah Khatib Sumat yang terkenal dalam sejarah Islam di Campa. Mengikut cerita daripada masyarakat tempatan bahwa dalam pelayaran tersebut bila mereka tiba diperairan Kuala Kelantan untuk menuju Jawa, kapal yang mereka naiki bocor dan dimasuki air. Lalu mereka bernazar jika jika kapal mereka selamat sampai kedarat yang terdekat, mereka akan mendirikan sebuah masjid di tempat tersebut yaitu disebelah timur Kampung Laut
Masjid ini bertahan dari dua banjir besar di Kelantan dan ahirnya dipindahkan ke lokasinya sekarang untuk mencegahnya tergerus habis oleh kikisan aliran Sungai Kelantan. Arsitektural masjid Kampung Laut sangat mirip dengan Masjid Agung Demak, Jawa Tengah, Indonesia. Tak salah bila disebut sebagai replikanya Masjid Agung Demak di Negeri Kelantan.Bentuk masjid ini memang sangat mirip dengan Masjid Agung Demak yang dibangun tahun 1401 saka atau 1479M (abad ke 15).[2] Nama Kampung Laut yang menjadi nama masjid ini diambil dari nama Kampung tempat dimana masjid ini pertama kali berdiri sebelum dipindahkan ke lokasinya sekarang. Dimasa pemerintahan Sultan Kelantan antara tahun 1859-1900 Masjid Kampung Laut menjadi tempat utama bagi Sultan dan para pemuka agama Islam. Masjid ini juga menjadi pos perdagangan. Selama masa tersebut bangunan masjid telah diperluas dan ditambahkan 20 pilar, bangunan menara dengan atap limas bersusun tiga untuk muazin mengumandangkan azan, loteng, serambi, balai balai dan tangki penampung air serta penggantian lantai masjid dengan kayu yang berkualitas lebih baik.
Proses pembaharuan dan restorasi Masjid Kampung Laut kembali dilaksanakan pada tahun 1988 – 1989 dengan memberikan sentuhan perbaikan pada bagian bagian bangunan yang rusak termasuk penggantian dinding dinding kayu yang lapuk, penggantian buah gutung (ornamen dekoratif di puncak tertinggi atap limas masjid), pembangunan beberapa fasilitas pendukung termasuk beberapa saung / gazebo, toilet, tangki air dan pemasangan sambungan listrik dan air. Keseluruhan proses restorasi tersebut menghabiskan dana RM 161.000 Ringgit Malaysia.Denah Masjid Kampung Laut nyaris berbentuk bujursangkar sempurna dengan ukuran 74kaki X 71 kaki ini memiliki dinding dengan pola yang disebut pola “janda berhias” sementara ujung dari masing masing pilar kayu di dalam masjid ini dihias dengan ukiran ukiran indah.
Masjid kampung laut dibangun dengan struktur atap limas bersusun tiga sama persis seperti struktur atap Masjid Agung Demak lengkap dengan empat sokoguru (empat tiang utama) di tengah masjid menopang struktur atap. bila sokoguru asli di Masjid Agung Demak bebentuk bundar, Empat tiang kayu di masjid Kampung Laut ini berbentuk tiang segi empat.[3]
Bentuk atap limas seperti ini adalah arsitektural masa sebelum Islam yang kemudian diserap ke dalam tradisi Islam dengan pemaknaan yang berbeda. bila dalam ajaran leluhur menganggap bentuk atap limas sebagai gunungan, sebagai tempat tertinggi, sebaliknya dalam tradisi Islam bentuk atap bersusun tiga ini sebagai cerminan dari tiga unsur Islam yakni Iman, Islam, dan Ikhsan. . Di ujung atap tertinggi Masjid Kampung laut juga di hias dengan ornamen berukir, di pulau jawa biasa disebut sebagai mastaka, Masyarakat melayu Kelantan menyebutnya dengan ornamen buah gutung. ornamen seperti ini memang digunakan hampir dikeseluruhan masjid masjid tua Indonesia dengan berbagai bentuk termasuk mastaka dalam bentuk daun simbar seperti yang dipakai di puncak atap masjid Agung Sultan Palembang dan masjid...
Read moreThe mosque built without nails is truly a remarkable architectural marvel. In addition to its stunning design, it offers visitors a range of amenities that enhance their experience. A convenient store within the vicinity allows for the purchase of traditional crafts such as wau and batik, providing a glimpse into local culture and craftsmanship. Moreover, visitors have the opportunity to engage in the art of canting batik nearby, adding an interactive and hands-on element to their visit. Another appealing feature is the availability of boat rides for a nominal fee of RM5, allowing visitors to explore the surrounding area. This combination of extraordinary architecture and supplementary offerings makes the mosque an even more enticing destination for those seeking cultural immersion and...
Read more