HTML SitemapExplore

Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan — Local services in Central Java

Name
Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan
Description
Nearby attractions
Nearby restaurants
Nearby local services
Nearby hotels
Related posts
Keywords
Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan tourism.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan hotels.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan bed and breakfast. flights to Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan attractions.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan restaurants.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan local services.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan travel.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan travel guide.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan travel blog.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan pictures.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan photos.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan travel tips.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan maps.Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan things to do.
Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan things to do, attractions, restaurants, events info and trip planning
Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan
IndonesiaCentral JavaMakam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan

Basic Info

Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan

Jl. Kyai Ageng Selo, Kebondalem, Selo, Kec. Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 58191, Indonesia
4.7(194)
Save
spot

Ratings & Description

Info

Cultural
Family friendly
attractions: , restaurants: , local businesses:
logoLearn more insights from Wanderboat AI.

Plan your stay

hotel
Pet-friendly Hotels in Central Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
Affordable Hotels in Central Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
The Coolest Hotels You Haven't Heard Of (Yet)
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
Trending Stays Worth the Hype in Central Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Reviews

Get the Appoverlay
Get the AppOne tap to find yournext favorite spots!
Wanderboat LogoWanderboat

Your everyday Al companion for getaway ideas

CompanyAbout Us
InformationAI Trip PlannerSitemap
SocialXInstagramTiktokLinkedin
LegalTerms of ServicePrivacy Policy

Get the app

© 2025 Wanderboat. All rights reserved.

Reviews of Makam Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan

4.7
(194)
avatar
5.0
3y

Kisah manusia yang mampu menaklukkan petir tercatat dalam legenda di Indonesia. Tokoh dalam kisah itu adalah Ki Ageng Selo, yang makamnya terletak di Desa Selo, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Lokasi makam berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Purwodadi.

Makam Ki Ageng Selo sekarang merupakan benda cagar budaya yang dilindungi UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992 Jo. UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010. Selain makam, termasuk juga masjid Ki Ageng Selo dan Tanah Magersari.

Jejak Ki Ageng Selo tercatat sejarah. Sosoknya disebut sebagai keturunan raja terakhir Majapahit, Brawijaya, dari garis Ki Getas Pandawa. Ki Ageng Selo juga diketahui sebagai guru pendiri Kesultanan Pajang, Sultan Adiwijaya.

Hidup sederhana sebagai petani, Ki Ageng Selo memperdalam ilmu filsafat dan agama sehingga memiliki pengaruh yang kuat dalam tatanan kehidupan masyarakat. Bahkan olah pikiran Ki Ageng Selo sangat didengarkan penduduk setempat.

Dikenal sebagai orang bijaksana dengan ilmu kanuragan yang tinggi, Ki Ageng Selo tak pernah tinggi hati. Ia menjadi pendengar yang baik dan mau membantu kesulitan yang dihadapi para petani.

Sebagai desa yang subur dan lumbung padi, suatu ketika keresahan petani muncul disebabkan lahan bertani menjadi lokasi sambaran petir. Akibatnya, hasil panen padi berkurang dan petani merasa was-was mengolah lahannya.

Suatu hari, saat sedang menggarap lahan sawahnya, cuaca mendung dan turun hujan. Lalu, petir menyambar Ki Ageng Selo. Dengan ilmu kanuragannya, Ki Ageng Selo menangkap petir yang berwujud naga, kemudian diikat pada pohon Gandrik di sekitar lahan sawahnya.

Ketika dibawa ke rumah, wujud naga itu disimpan dalam lemari yang kini bisa dilihat di area belakang pondok makam.

Hingga kini masyarakat Jawa percaya bila hujan turun dan muncul petir, mereka akan terhindar dari sambaran petir bila berucap “Gandrik anak putune Ki Ageng Selo (Gandrik anak cucunya Ki Ageng Selo)”.

Saat dibawa ke Sultan Demak, petir berupa naga berubah wujud menjadi seorang kakek, yang dikerangkeng dan ditempatkan di alun-alun.

Seorang nenek mendekati kerangkeng dan menyemburkan air dari kendi yang dibawanya ke arah si kakek. Petir menggelegar, wujud kakek dan nenek itu menghilang tiba-tiba.

Dalam satu foto yang dipajang di pendopo sebelah kanan selasar menuju makam, pengunjung bisa melihat gambar wujud naga dari petir yang ditangkap Ki Ageng Selo. Gambar tersebut dilukis oleh Ki Ageng Selo dengan judul “Lawang Bledeg” dan terpahat di pintu utama Masjid Agung Demak.

Letak makam Ki Ageng Selo berada di area belakang masjid. Sehingga, peziarah harus melewati jalan di samping masjid, menyusuri jalan selasar yang berujung pada pondok yang didominasi warna hijau. Dalam pondok itulah makam Ki Ageng Selo tersimpan.

Area selasar juga menjadi wilayah yang jangan lupa untuk dilihat peziarah, karena terdapat silsilah lengkap dari Ki Ageng Selo yang tersipan dalam pendopo.

Sebelum menyusuri selasar, pada dinding bangunan sebelah kanan jalan masuk selasar, peziarah bisa melihat tujuh pepali (larangan) Ki Ageng Selo, yang dinarasikan dalam sekar macapat, Dandanggula. Tertulis “Pepali-ku hargailah, (supaya) memberkahi, lagi pula selamat serta sehat”.

Larangan memetik tanaman yang ada dalam wilayah makam, juga harus dipatuhi peziarah. Terutama pohon Gandrik yang terdapat di sekitar pondok makam.

Selain itu, peziarah yang datang haruslah menjaga ketenangan, agar tidak mengganggu peziarah lain yang sedang melantunkan ayat-ayat doa...

   Read more
avatar
5.0
1y

Ki Ageng Selo adalah tokoh besar di masa lalu dari Grobogan. Sosoknya sangat terkenal dalam historiografi Jawa, terutama karena mitos mampu menangkap petir dengan tangan kosong. Riwayat hidupnya umumnya berasal dari cerita tutur turun-temurun dan dalam naskah² babad. Dalam cerita babad tanah Jawi, Ki Ageng Selo adalah keturunan Majapahit. Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, beristri Putri Wandan Kuning. Puteri tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Bondan Kejawan. Berdasarakan ramalan ahli nujum, anak tersebut akan membunuh ayahnya. Raja kemudian menitipkan Bondan kepada juru sabin raja, Ki Buyut Masharar. Setelah dewasa, Raja kembali menitipan kepada Ki Ageng Tarub untuk belajar agama Islam dan Ilmu kesaktian. Ki Ageng Tarub mengubah nama Bondan Kejawan menjadi Lembu Peteng. Dalam perjalanannya, Lembu Peteng dinikahkan dengan Dewi Nawangsih, anak Ki Ageng Tarub dari istri bidadari Dewi Nawang Wulan. Setelah Ki Ageng Tarub meninggal, Lembu Peteng mengganti kedudukan mertuanya dan mengganti namanya menjadi Ki Ageng Tarub II. Perkawinan Lembu Peteng dan Nawangsih membuahkan seorang putra yang bernama Ki Getas Pendowo dan seorang putri, yang kemudian menikah dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo memiliki tujuh anak, yaitu Ki Ageng Selo, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, dan Nyai Ageng Adibaya. Ki Ageng Selo senang bertapa di hutan, gua, dan gunung sambil bertani di sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil panen sawahnya selalu dibagi-bagi dengan tetangga yang membutuhkan. Pada perkembangannya, Ki Ageng Selo mendirikan perguruan Islam. Salah seorang muridnya adalah Mas Karebet, calon Sultan Pajang yang bergelar Hadiwijaya. Dalam tapanya, Ki Ageng Selo selalu memohon kepada Tuhan supaya dapat menurunkan raja-raja besar yang menguasi seluruh Jawa. Nama Selo yang melekat pada nama Ki Ageng, terkait dengan kekalahannya melawan banteng liar. Suatu saat, Ki Ageng ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya adalah dia harus diadu dengan banteng liar. Dalam perkelahian tersebut, Ki Ageng dapat membunuh banteng, namun dia takut dengan percikan darahnya. Akhirnya lamarannya sebagai prajurit ditolak. Karena sakit hati, Ki Ageng kembali ke desanya di Selo. Menangkap bledheg Suatu hari, Ki Ageng Selo mencangkul di sawah dalam kondisi mendung. Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebat dengan halilintar. Belum lama mencangkul, Ki Ageng Selo disamber "bledheg" yang kemudian berwujud kakek². Ki Ageng Selo cepat² menangkap dan mengikat kakek di pohon gandri. Ki Ageng kemudian menyerahkan "bledheg" atau kakek² tersebut kepada Sultan Demak. Sultan Demak menempatkan kakek di jeruji besi di tengah alun². Banyak orang berdatangan untuk melihat wujud "bledheg" tersebut. Kemudian, seorang nenek datang memberikan air kendi kepada :"bledheg" yg kemudian diminumnya. Setelah bledheg meminumnya terdengar suara menggelegar memekakkan telinga, bersamaan dgn hal tersebut kakek dan nenek "bledheg" lenyap. Keinginan mendirikan kerajaan Semasa hidupnya, Ki Ageng Sel mempunyai keinginan untuk mendirikan kerajaan, namun keinginannya tidak dapat dicapai. Keinginannya tersebut baru diwujudkan oleh cicitnya yang bernama Sutawijaya. Sutawijaya adalah pendiri Kerajaan kedua atau Kesultanan Mataran yang berkuasa pada tahun 1587-1601 M. Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir ter diabadikan pada sebuah ukiran Lawang Bledheg, pintu petir, di...

   Read more
avatar
5.0
48w

Ki Ageng Selo adalah tokoh besar di masa lalu dari Grobogan. Sosoknya sangat terkenal dalam historiografi Jawa, terutama karena mitos mampu menangkap petir dengan tangan kosong.

Riwayat hidupnya umumnya berasal dari cerita tutur turun-temurun dan dalam naskah-naskah babad. Sebagai sosok historis, makamnya terletak di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Hingga kini, makam tokoh moyangnya raja raja Mataram ini banyak diziarahi oleh para peziarah dari berbagai daerah. Menurut Babad Tanah Jawa, Ki Ageng Selo adalah salah seorang murid Sunan Kalijaga.

Dalam buku Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Selo (2004), Ki Ageng Selo hidup di zaman pemerintahan Kerajaan Demak terakhir. Pada masa itu, Kerajaan Demak di bawah kekuasaan Kanjeng Sultan Trenggono (1521-1545 Masehi).

Nama kecil Ki Ageng Selo adalah Bagus Sogum atau Bagus Songgom. Setelah berumur, Ki Ageng Selo lebih dikenal dengan nama Kiai Abdulrahman.

Kemudian lebih dikenal lagi dengan nama Ki Ageng Selo hingga sekarang karena ia tinggal di Desa Selo yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Tawangharo, Kabupaten Grobogan. Menurut sejarah, Ki Ageng Selo masih memiliki alur darah dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Antara Ki Ageng Selo dengan Sultan Trenggono diikat oleh tali persaudaraan, yakni kadang nak-sanak tunggal eyang (saudara sepupu satu kakek). Hal ini terjadi karena Sultan Trenggono terhitung cucu dari Prabu Brawijaya V, sedang Ki Ageng Selo terhitung cicit.

Ihwal Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram, dapat dijelaskan bahwa cucu Ki Ageng Selo bernama Ki Ageng Pamanahan memiliki anak bernama Danang Sutawijaya. Kemudian bergelar Panembahan Senopati seperti diketahui adalah Raja Mataram yang sangat masyhur.

Lahirnya Kerajaan Mataram memang tidak dapat dipisahkan dari sosok Ki Ageng Pamanahan, cucu Ki Ageng Selo. Waktu itu dianggap berhasil oleh Sultan Hadiwijaya (penguasa Kerajaan Pajang) dalam mengalahkan Arya Penangsang melalui tangan anaknya Danang Sutawijaya.

Melalui kemenangan anaknya ini, Ki Ageng Pamanahann dianggap berhasil dan kemudian diganjar dengan tanah Mataram yang masih berupa hutan disebut alas Mentaok. Selama hidupnya, Ki Ageng Selo dikenal sebagai seorang petani sekaligus seorang wali yang cendekia.

Dia juga mumpuni di bidang karawitan, seni lukis, dan seni ukir. Dalam sebuah cerita, Ki Ageng Selo yang membuat pintu bledheg di Masjid Agung Demak, yang kini pintu aslinya masih dapat kita jumpai di Museum Masjid Agung Demak....

   Read more
Page 1 of 7
Previous
Next

Posts

Akhil Geztha PhotographyAkhil Geztha Photography
Kisah manusia yang mampu menaklukkan petir tercatat dalam legenda di Indonesia. Tokoh dalam kisah itu adalah Ki Ageng Selo, yang makamnya terletak di Desa Selo, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Lokasi makam berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Purwodadi. Makam Ki Ageng Selo sekarang merupakan benda cagar budaya yang dilindungi UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992 Jo. UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010. Selain makam, termasuk juga masjid Ki Ageng Selo dan Tanah Magersari. Jejak Ki Ageng Selo tercatat sejarah. Sosoknya disebut sebagai keturunan raja terakhir Majapahit, Brawijaya, dari garis Ki Getas Pandawa. Ki Ageng Selo juga diketahui sebagai guru pendiri Kesultanan Pajang, Sultan Adiwijaya. Hidup sederhana sebagai petani, Ki Ageng Selo memperdalam ilmu filsafat dan agama sehingga memiliki pengaruh yang kuat dalam tatanan kehidupan masyarakat. Bahkan olah pikiran Ki Ageng Selo sangat didengarkan penduduk setempat. Dikenal sebagai orang bijaksana dengan ilmu kanuragan yang tinggi, Ki Ageng Selo tak pernah tinggi hati. Ia menjadi pendengar yang baik dan mau membantu kesulitan yang dihadapi para petani. Sebagai desa yang subur dan lumbung padi, suatu ketika keresahan petani muncul disebabkan lahan bertani menjadi lokasi sambaran petir. Akibatnya, hasil panen padi berkurang dan petani merasa was-was mengolah lahannya. Suatu hari, saat sedang menggarap lahan sawahnya, cuaca mendung dan turun hujan. Lalu, petir menyambar Ki Ageng Selo. Dengan ilmu kanuragannya, Ki Ageng Selo menangkap petir yang berwujud naga, kemudian diikat pada pohon Gandrik di sekitar lahan sawahnya. Ketika dibawa ke rumah, wujud naga itu disimpan dalam lemari yang kini bisa dilihat di area belakang pondok makam. Hingga kini masyarakat Jawa percaya bila hujan turun dan muncul petir, mereka akan terhindar dari sambaran petir bila berucap “Gandrik anak putune Ki Ageng Selo (Gandrik anak cucunya Ki Ageng Selo)”. Saat dibawa ke Sultan Demak, petir berupa naga berubah wujud menjadi seorang kakek, yang dikerangkeng dan ditempatkan di alun-alun. Seorang nenek mendekati kerangkeng dan menyemburkan air dari kendi yang dibawanya ke arah si kakek. Petir menggelegar, wujud kakek dan nenek itu menghilang tiba-tiba. Dalam satu foto yang dipajang di pendopo sebelah kanan selasar menuju makam, pengunjung bisa melihat gambar wujud naga dari petir yang ditangkap Ki Ageng Selo. Gambar tersebut dilukis oleh Ki Ageng Selo dengan judul “Lawang Bledeg” dan terpahat di pintu utama Masjid Agung Demak. Letak makam Ki Ageng Selo berada di area belakang masjid. Sehingga, peziarah harus melewati jalan di samping masjid, menyusuri jalan selasar yang berujung pada pondok yang didominasi warna hijau. Dalam pondok itulah makam Ki Ageng Selo tersimpan. Area selasar juga menjadi wilayah yang jangan lupa untuk dilihat peziarah, karena terdapat silsilah lengkap dari Ki Ageng Selo yang tersipan dalam pendopo. Sebelum menyusuri selasar, pada dinding bangunan sebelah kanan jalan masuk selasar, peziarah bisa melihat tujuh pepali (larangan) Ki Ageng Selo, yang dinarasikan dalam sekar macapat, Dandanggula. Tertulis “Pepali-ku hargailah, (supaya) memberkahi, lagi pula selamat serta sehat”. Larangan memetik tanaman yang ada dalam wilayah makam, juga harus dipatuhi peziarah. Terutama pohon Gandrik yang terdapat di sekitar pondok makam. Selain itu, peziarah yang datang haruslah menjaga ketenangan, agar tidak mengganggu peziarah lain yang sedang melantunkan ayat-ayat doa dengan khusyuk.
Your browser does not support the video tag.
agus pordjoagus pordjo
Kebetulan pas ziarah dlam keadaan sepi..
Wawan KawolWawan Kawol
Ki Ageng Selo adalah tokoh besar di masa lalu dari Grobogan. Sosoknya sangat terkenal dalam historiografi Jawa, terutama karena mitos mampu menangkap petir dengan tangan kosong. Riwayat hidupnya umumnya berasal dari cerita tutur turun-temurun dan dalam naskah² babad. Dalam cerita babad tanah Jawi, Ki Ageng Selo adalah keturunan Majapahit. Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, beristri Putri Wandan Kuning. Puteri tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Bondan Kejawan. Berdasarakan ramalan ahli nujum, anak tersebut akan membunuh ayahnya. Raja kemudian menitipkan Bondan kepada juru sabin raja, Ki Buyut Masharar. Setelah dewasa, Raja kembali menitipan kepada Ki Ageng Tarub untuk belajar agama Islam dan Ilmu kesaktian. Ki Ageng Tarub mengubah nama Bondan Kejawan menjadi Lembu Peteng. Dalam perjalanannya, Lembu Peteng dinikahkan dengan Dewi Nawangsih, anak Ki Ageng Tarub dari istri bidadari Dewi Nawang Wulan. Setelah Ki Ageng Tarub meninggal, Lembu Peteng mengganti kedudukan mertuanya dan mengganti namanya menjadi Ki Ageng Tarub II. Perkawinan Lembu Peteng dan Nawangsih membuahkan seorang putra yang bernama Ki Getas Pendowo dan seorang putri, yang kemudian menikah dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo memiliki tujuh anak, yaitu Ki Ageng Selo, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, dan Nyai Ageng Adibaya. Ki Ageng Selo senang bertapa di hutan, gua, dan gunung sambil bertani di sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil panen sawahnya selalu dibagi-bagi dengan tetangga yang membutuhkan. Pada perkembangannya, Ki Ageng Selo mendirikan perguruan Islam. Salah seorang muridnya adalah Mas Karebet, calon Sultan Pajang yang bergelar Hadiwijaya. Dalam tapanya, Ki Ageng Selo selalu memohon kepada Tuhan supaya dapat menurunkan raja-raja besar yang menguasi seluruh Jawa. Nama Selo yang melekat pada nama Ki Ageng, terkait dengan kekalahannya melawan banteng liar. Suatu saat, Ki Ageng ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya adalah dia harus diadu dengan banteng liar. Dalam perkelahian tersebut, Ki Ageng dapat membunuh banteng, namun dia takut dengan percikan darahnya. Akhirnya lamarannya sebagai prajurit ditolak. Karena sakit hati, Ki Ageng kembali ke desanya di Selo. Menangkap bledheg Suatu hari, Ki Ageng Selo mencangkul di sawah dalam kondisi mendung. Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebat dengan halilintar. Belum lama mencangkul, Ki Ageng Selo disamber "bledheg" yang kemudian berwujud kakek². Ki Ageng Selo cepat² menangkap dan mengikat kakek di pohon gandri. Ki Ageng kemudian menyerahkan "bledheg" atau kakek² tersebut kepada Sultan Demak. Sultan Demak menempatkan kakek di jeruji besi di tengah alun². Banyak orang berdatangan untuk melihat wujud "bledheg" tersebut. Kemudian, seorang nenek datang memberikan air kendi kepada :"bledheg" yg kemudian diminumnya. Setelah bledheg meminumnya terdengar suara menggelegar memekakkan telinga, bersamaan dgn hal tersebut kakek dan nenek "bledheg" lenyap. Keinginan mendirikan kerajaan Semasa hidupnya, Ki Ageng Sel mempunyai keinginan untuk mendirikan kerajaan, namun keinginannya tidak dapat dicapai. Keinginannya tersebut baru diwujudkan oleh cicitnya yang bernama Sutawijaya. Sutawijaya adalah pendiri Kerajaan kedua atau Kesultanan Mataran yang berkuasa pada tahun 1587-1601 M. Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir ter diabadikan pada sebuah ukiran Lawang Bledheg, pintu petir, di Masjid Demak.
See more posts
See more posts
hotel
Find your stay

Pet-friendly Hotels in Central Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Kisah manusia yang mampu menaklukkan petir tercatat dalam legenda di Indonesia. Tokoh dalam kisah itu adalah Ki Ageng Selo, yang makamnya terletak di Desa Selo, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Lokasi makam berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Purwodadi. Makam Ki Ageng Selo sekarang merupakan benda cagar budaya yang dilindungi UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992 Jo. UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010. Selain makam, termasuk juga masjid Ki Ageng Selo dan Tanah Magersari. Jejak Ki Ageng Selo tercatat sejarah. Sosoknya disebut sebagai keturunan raja terakhir Majapahit, Brawijaya, dari garis Ki Getas Pandawa. Ki Ageng Selo juga diketahui sebagai guru pendiri Kesultanan Pajang, Sultan Adiwijaya. Hidup sederhana sebagai petani, Ki Ageng Selo memperdalam ilmu filsafat dan agama sehingga memiliki pengaruh yang kuat dalam tatanan kehidupan masyarakat. Bahkan olah pikiran Ki Ageng Selo sangat didengarkan penduduk setempat. Dikenal sebagai orang bijaksana dengan ilmu kanuragan yang tinggi, Ki Ageng Selo tak pernah tinggi hati. Ia menjadi pendengar yang baik dan mau membantu kesulitan yang dihadapi para petani. Sebagai desa yang subur dan lumbung padi, suatu ketika keresahan petani muncul disebabkan lahan bertani menjadi lokasi sambaran petir. Akibatnya, hasil panen padi berkurang dan petani merasa was-was mengolah lahannya. Suatu hari, saat sedang menggarap lahan sawahnya, cuaca mendung dan turun hujan. Lalu, petir menyambar Ki Ageng Selo. Dengan ilmu kanuragannya, Ki Ageng Selo menangkap petir yang berwujud naga, kemudian diikat pada pohon Gandrik di sekitar lahan sawahnya. Ketika dibawa ke rumah, wujud naga itu disimpan dalam lemari yang kini bisa dilihat di area belakang pondok makam. Hingga kini masyarakat Jawa percaya bila hujan turun dan muncul petir, mereka akan terhindar dari sambaran petir bila berucap “Gandrik anak putune Ki Ageng Selo (Gandrik anak cucunya Ki Ageng Selo)”. Saat dibawa ke Sultan Demak, petir berupa naga berubah wujud menjadi seorang kakek, yang dikerangkeng dan ditempatkan di alun-alun. Seorang nenek mendekati kerangkeng dan menyemburkan air dari kendi yang dibawanya ke arah si kakek. Petir menggelegar, wujud kakek dan nenek itu menghilang tiba-tiba. Dalam satu foto yang dipajang di pendopo sebelah kanan selasar menuju makam, pengunjung bisa melihat gambar wujud naga dari petir yang ditangkap Ki Ageng Selo. Gambar tersebut dilukis oleh Ki Ageng Selo dengan judul “Lawang Bledeg” dan terpahat di pintu utama Masjid Agung Demak. Letak makam Ki Ageng Selo berada di area belakang masjid. Sehingga, peziarah harus melewati jalan di samping masjid, menyusuri jalan selasar yang berujung pada pondok yang didominasi warna hijau. Dalam pondok itulah makam Ki Ageng Selo tersimpan. Area selasar juga menjadi wilayah yang jangan lupa untuk dilihat peziarah, karena terdapat silsilah lengkap dari Ki Ageng Selo yang tersipan dalam pendopo. Sebelum menyusuri selasar, pada dinding bangunan sebelah kanan jalan masuk selasar, peziarah bisa melihat tujuh pepali (larangan) Ki Ageng Selo, yang dinarasikan dalam sekar macapat, Dandanggula. Tertulis “Pepali-ku hargailah, (supaya) memberkahi, lagi pula selamat serta sehat”. Larangan memetik tanaman yang ada dalam wilayah makam, juga harus dipatuhi peziarah. Terutama pohon Gandrik yang terdapat di sekitar pondok makam. Selain itu, peziarah yang datang haruslah menjaga ketenangan, agar tidak mengganggu peziarah lain yang sedang melantunkan ayat-ayat doa dengan khusyuk.
Akhil Geztha Photography

Akhil Geztha Photography

hotel
Find your stay

Affordable Hotels in Central Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Get the Appoverlay
Get the AppOne tap to find yournext favorite spots!
Kebetulan pas ziarah dlam keadaan sepi..
agus pordjo

agus pordjo

hotel
Find your stay

The Coolest Hotels You Haven't Heard Of (Yet)

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

hotel
Find your stay

Trending Stays Worth the Hype in Central Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Ki Ageng Selo adalah tokoh besar di masa lalu dari Grobogan. Sosoknya sangat terkenal dalam historiografi Jawa, terutama karena mitos mampu menangkap petir dengan tangan kosong. Riwayat hidupnya umumnya berasal dari cerita tutur turun-temurun dan dalam naskah² babad. Dalam cerita babad tanah Jawi, Ki Ageng Selo adalah keturunan Majapahit. Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, beristri Putri Wandan Kuning. Puteri tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Bondan Kejawan. Berdasarakan ramalan ahli nujum, anak tersebut akan membunuh ayahnya. Raja kemudian menitipkan Bondan kepada juru sabin raja, Ki Buyut Masharar. Setelah dewasa, Raja kembali menitipan kepada Ki Ageng Tarub untuk belajar agama Islam dan Ilmu kesaktian. Ki Ageng Tarub mengubah nama Bondan Kejawan menjadi Lembu Peteng. Dalam perjalanannya, Lembu Peteng dinikahkan dengan Dewi Nawangsih, anak Ki Ageng Tarub dari istri bidadari Dewi Nawang Wulan. Setelah Ki Ageng Tarub meninggal, Lembu Peteng mengganti kedudukan mertuanya dan mengganti namanya menjadi Ki Ageng Tarub II. Perkawinan Lembu Peteng dan Nawangsih membuahkan seorang putra yang bernama Ki Getas Pendowo dan seorang putri, yang kemudian menikah dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo memiliki tujuh anak, yaitu Ki Ageng Selo, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, dan Nyai Ageng Adibaya. Ki Ageng Selo senang bertapa di hutan, gua, dan gunung sambil bertani di sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil panen sawahnya selalu dibagi-bagi dengan tetangga yang membutuhkan. Pada perkembangannya, Ki Ageng Selo mendirikan perguruan Islam. Salah seorang muridnya adalah Mas Karebet, calon Sultan Pajang yang bergelar Hadiwijaya. Dalam tapanya, Ki Ageng Selo selalu memohon kepada Tuhan supaya dapat menurunkan raja-raja besar yang menguasi seluruh Jawa. Nama Selo yang melekat pada nama Ki Ageng, terkait dengan kekalahannya melawan banteng liar. Suatu saat, Ki Ageng ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya adalah dia harus diadu dengan banteng liar. Dalam perkelahian tersebut, Ki Ageng dapat membunuh banteng, namun dia takut dengan percikan darahnya. Akhirnya lamarannya sebagai prajurit ditolak. Karena sakit hati, Ki Ageng kembali ke desanya di Selo. Menangkap bledheg Suatu hari, Ki Ageng Selo mencangkul di sawah dalam kondisi mendung. Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebat dengan halilintar. Belum lama mencangkul, Ki Ageng Selo disamber "bledheg" yang kemudian berwujud kakek². Ki Ageng Selo cepat² menangkap dan mengikat kakek di pohon gandri. Ki Ageng kemudian menyerahkan "bledheg" atau kakek² tersebut kepada Sultan Demak. Sultan Demak menempatkan kakek di jeruji besi di tengah alun². Banyak orang berdatangan untuk melihat wujud "bledheg" tersebut. Kemudian, seorang nenek datang memberikan air kendi kepada :"bledheg" yg kemudian diminumnya. Setelah bledheg meminumnya terdengar suara menggelegar memekakkan telinga, bersamaan dgn hal tersebut kakek dan nenek "bledheg" lenyap. Keinginan mendirikan kerajaan Semasa hidupnya, Ki Ageng Sel mempunyai keinginan untuk mendirikan kerajaan, namun keinginannya tidak dapat dicapai. Keinginannya tersebut baru diwujudkan oleh cicitnya yang bernama Sutawijaya. Sutawijaya adalah pendiri Kerajaan kedua atau Kesultanan Mataran yang berkuasa pada tahun 1587-1601 M. Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir ter diabadikan pada sebuah ukiran Lawang Bledheg, pintu petir, di Masjid Demak.
Wawan Kawol

Wawan Kawol

See more posts
See more posts