HTML SitemapExplore

Pancuran 7 — Local services in Central Java

Name
Pancuran 7
Description
Nearby attractions
Nearby restaurants
Nearby local services
Nearby hotels
Related posts
Keywords
Pancuran 7 tourism.Pancuran 7 hotels.Pancuran 7 bed and breakfast. flights to Pancuran 7.Pancuran 7 attractions.Pancuran 7 restaurants.Pancuran 7 local services.Pancuran 7 travel.Pancuran 7 travel guide.Pancuran 7 travel blog.Pancuran 7 pictures.Pancuran 7 photos.Pancuran 7 travel tips.Pancuran 7 maps.Pancuran 7 things to do.
Pancuran 7 things to do, attractions, restaurants, events info and trip planning
Pancuran 7
IndonesiaCentral JavaPancuran 7

Basic Info

Pancuran 7

Dusun III Kalipagu, Ketenger, Baturaden, Banyumas Regency, Central Java, Indonesia
4.5(1.2K)
Closed
Save
spot

Ratings & Description

Info

Outdoor
Relaxation
Family friendly
attractions: , restaurants: , local businesses:
logoLearn more insights from Wanderboat AI.
Phone
+62 822-2689-2299
Website
trip.econique.co.id
Open hoursSee all hours
Thu8 AM - 4 PMClosed

Plan your stay

hotel
Pet-friendly Hotels in Central Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
Affordable Hotels in Central Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
The Coolest Hotels You Haven't Heard Of (Yet)
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
Trending Stays Worth the Hype in Central Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Reviews

Get the Appoverlay
Get the AppOne tap to find yournext favorite spots!
Wanderboat LogoWanderboat

Your everyday Al companion for getaway ideas

CompanyAbout Us
InformationAI Trip PlannerSitemap
SocialXInstagramTiktokLinkedin
LegalTerms of ServicePrivacy Policy

Get the app

© 2025 Wanderboat. All rights reserved.

Reviews of Pancuran 7

4.5
(1,213)
avatar
3.0
1y

(20 Januari 2024)Buat pertimbangan kalian yang mau kesini. Overall untuk pancuran 7 sudah bagus dan menarik, akses mudah juga karena melewati akses jalan dari "kebun raya baturraden". Tapi saya masih ada rasa kecewa terkait pengelolaannya, berikut :

Tiket masuk sudah include dengan tiket masuk Wana Wisata Baturraden sebesar 25k (weekend, kalo weekday 20k) + parkir kendaraan 5k. Grand total 55k. Jadi 25k itu mencakup 3 wisata, yaitu Pancuran 7, "Kebun Raya Baturraden", dan Taman Labirin. Tapiii, seperti ulasan saya terkait kebun raya dan taman labirin, keduanya diluar ekspetasi saya... mengecewakan. Untuk tiket yg buat saya memang tidak terlalu mahal. Hanya saja apabila dicompare dengan wisata sejenis. Rasanya tanah Jawa masih memiliki wisata sejenis yang tiketnya lebih sesuai dengan apa yang didapat.

Akses Jalan udah okee sampai ke parkiran kendaraan. Ingat kan di awal sudah ada tarif parkir yang wajib kita bayar? Nah, mengherankannya disini ada pungutan lagi sebesar 5k untuk motor dan 10k untuk mobil dengan tujuan "jasa tunggu". Ini bukan perkara nominal yah tapi perihal KEJELASAN BIAYA, mengapa?

Pungutan tambahan tersebut mengatasnamakan "jasa tunggu" tapi di bawah karcisnya tertulis "kendaraan mohon untuk dikunci, APABILA KEHILANGAN/KERUSAKAN BUKAN TANGGUNG JAWAB KAMI". Wah keren sekali, paling atas dengan tulisan dicetak tebal dan kapital semua mengatasnamakan "SECURITY MANDIRI JAGA WANA PANCURAN 7 BATURRADEN". Ini sebenarnya SECURITY atau PUNKLY? Tugas utama security adalah pengamanan bukan? Kalau memang ada kehilangan atau kerusakan lantas kita melaporkannya kemana? Sedangkan yang mengatasnamakan "security" yang dicetak tebal dan di kapital semua di karcis tersebut tapi dibawahnya memberikan keterangan seperti lepas tangan? Mantap sekali logikanya 🤫. Tolong untuk pihak terkait, ini perlu diluruskan yah. Kesannya ada dualisme kepengurusan, tidak professional sekali yaah. Kami pikir 55k yang sudah include parkir itu sudah semua. Jadi kami tidak perlu memikirkan yg lain. Oh iyaa, "karcis jasa tunggu" tsb ga ada nomor registernya yaa, kalo modal begitu aja sih saya juga bisa bikin pake Ms. word lalu di bawa ke tukang cetak :)

Untuk Wisatanya sendiri memang cukup bagus, setidaknya mengobati kelucuan yang terjadi di tempat parkir tadi. Airnya cukup panas, ada jasa pijat dengan tarif yg tertera disana, lalu ada air terjun "selirang" yang airnya dari air panas pancuran 7. Sehingga bukit yang tadinya tanah menjadi menguning dilapisi belerang menjadikannya unik.

Untuk tempat berendam air panasnya (tiket 5k) saya pikir seperti kamar mandi yang ada di film film horror! Serius, hawa yang saya rasakan seperti itu. Perkara lantainya menguning yaa wajar sih, karena belerang. Tapi, tempat rendamnya bukan dari bathup, tapi lebih ke "bath-up keramik & semen". Jika di compare, masih lebih worth it di lokawisata baturraden yang tiket masuknya sudah termasuk bak rendam dengan bath up.

Terakhir, ketidaknyamanan saya ketika saya mencoba untuk makan ala ala botram (istilah sunda untuk makan di alam terbuka) dengan kompor portable. Saya liat tidak ada larangan, tapi saat saya masak ko juru pijatnya seperti nyeletuk yang ga enak, yg saya dengar ada istilah "kompor meleduk lah, wah wangiii, dll" mungkin ini kesalahan saya karena tidak beli jajan dilokasi, padahal saya botram tidak di depan kantin. Melainkan di tempat duduk dan meja terbuka, jauh dari kantinnya. Apa karena saya belum menggunakan jasa mereka? Padahal setelah makan ala ala botram ini saya memang memakai jasa mereka. Yaa mungkin ini kesalahan saya atau tidak, monggo...

Itu saja mungkin, cukup 3 dulu. Biasanya kalau berkesan saya bisa beri 5. Tapi kekecewaan saya tidak bisa ditutupi. Saya yakin, di kaki gunung Slamet masih banyak wisata yang lebih worth it, yang lebih okee fasilitasnya, yg tidak OVERPRICE, dan lebih well developed.

Untuk dokumentasi di lokasi, sepertinya pengulas lainnya sudah cukup yaa. Kita fokus ke kekurangannya supaya jadi bahan pertimbangan buat...

   Read more
avatar
4.0
3y

This is one of several sulfuric springs and waterfalls in this area. It is easily accessible with a car (with good suspension and tyres!), but also by hiking from a lower elevation. The parking lot is well organized, but be aware that restrooms are extremely basic and impossible to keep clean. There are no western toilets. The parking lot takes you about 400m from the springs, walking down a steep but well maintained track, including on stairs. The hike to the seven spring spouts isn’t demanding at all, but for people who don’t hike much the return to the car might prove difficult and exhausting. Once arriving at the spring area, you need to run gauntlet between street vendors selling anything, and of course food. The seven springs are interesting but maybe the tourism has grown a bit out of proportion. You can drink or bathe in the water, and sulfuric mud massage is offered as well. There is also karaoke available, for the entire valley to enjoy. This is a nice way to spend a morning (it usually rains in the afternoon) but once you have seen it there is little need to go back - as with many of the world’s tourist attractions. Speaking of tourists - this is really off the beaten path for western tourists, and you basically only meet local, Indonesian tourists here, which we...

   Read more
avatar
5.0
16w

Pancuran means springs, pitu means seven (the numbers of the spring) It refers to the seven hot springs that flow directly from Slamet Mountain. It took a bit of a hike to reach the top. There were massage areas & tubs filled with the sulphuric hot water. There were some toilet cubicles, which i don't recommend going. But in case of emergency, you don't need to hold in it.

Fyi: Sulfur is believed to have antibacterial subtances that fight bacteria, which cause acne and other skin problems.

The view from up there was beautiful. The air was clean and it felt peaceful, as we heard the drizzling water surrounds us.

Underneath Pancuran Pitu, which still in the same area, there's Tebing Selirang. Tebing selirang is a cliff formed by sulfur sediment from the natural hot water flow of Pancuran Pitu (above it), which is hardened and creates an organic yellowish cliff wall. The water was warm and on several points were hotter than the other parts. It was a nice spot to just relax and enjoy the drizzling sulfuric water and warm steam surrounding you.

The terrain was a bit tough for kids. But my 10 years old could do it, with some nagging along the way.

Don't forget to bring hat, sunblock, mosquitoes repellant (just in case), hiking stick, hiking shoes, towel &...

   Read more
Page 1 of 7
Previous
Next

Posts

Ahmad Toni NuryahyaAhmad Toni Nuryahya
(20 Januari 2024)Buat pertimbangan kalian yang mau kesini. Overall untuk pancuran 7 sudah bagus dan menarik, akses mudah juga karena melewati akses jalan dari "kebun raya baturraden". Tapi saya masih ada rasa kecewa terkait pengelolaannya, berikut : 1. Tiket masuk sudah include dengan tiket masuk Wana Wisata Baturraden sebesar 25k (weekend, kalo weekday 20k) + parkir kendaraan 5k. Grand total 55k. Jadi 25k itu mencakup 3 wisata, yaitu Pancuran 7, "Kebun Raya Baturraden", dan Taman Labirin. Tapiii, seperti ulasan saya terkait kebun raya dan taman labirin, keduanya diluar ekspetasi saya... mengecewakan. Untuk tiket yg buat saya memang tidak terlalu mahal. Hanya saja apabila dicompare dengan wisata sejenis. Rasanya tanah Jawa masih memiliki wisata sejenis yang tiketnya lebih sesuai dengan apa yang didapat. 2. Akses Jalan udah okee sampai ke parkiran kendaraan. Ingat kan di awal sudah ada tarif parkir yang wajib kita bayar? Nah, mengherankannya disini ada pungutan lagi sebesar 5k untuk motor dan 10k untuk mobil dengan tujuan "jasa tunggu". Ini bukan perkara nominal yah tapi perihal KEJELASAN BIAYA, mengapa? Pungutan tambahan tersebut mengatasnamakan "jasa tunggu" tapi di bawah karcisnya tertulis "kendaraan mohon untuk dikunci, APABILA KEHILANGAN/KERUSAKAN BUKAN TANGGUNG JAWAB KAMI". Wah keren sekali, paling atas dengan tulisan dicetak tebal dan kapital semua mengatasnamakan "SECURITY MANDIRI JAGA WANA PANCURAN 7 BATURRADEN". Ini sebenarnya SECURITY atau PUNKLY? Tugas utama security adalah pengamanan bukan? Kalau memang ada kehilangan atau kerusakan lantas kita melaporkannya kemana? Sedangkan yang mengatasnamakan "security" yang dicetak tebal dan di kapital semua di karcis tersebut tapi dibawahnya memberikan keterangan seperti lepas tangan? Mantap sekali logikanya 🤫. Tolong untuk pihak terkait, ini perlu diluruskan yah. Kesannya ada dualisme kepengurusan, tidak professional sekali yaah. Kami pikir 55k yang sudah include parkir itu sudah semua. Jadi kami tidak perlu memikirkan yg lain. Oh iyaa, "karcis jasa tunggu" tsb ga ada nomor registernya yaa, kalo modal begitu aja sih saya juga bisa bikin pake Ms. word lalu di bawa ke tukang cetak :) 3. Untuk Wisatanya sendiri memang cukup bagus, setidaknya mengobati kelucuan yang terjadi di tempat parkir tadi. Airnya cukup panas, ada jasa pijat dengan tarif yg tertera disana, lalu ada air terjun "selirang" yang airnya dari air panas pancuran 7. Sehingga bukit yang tadinya tanah menjadi menguning dilapisi belerang menjadikannya unik. 4. Untuk tempat berendam air panasnya (tiket 5k) saya pikir seperti kamar mandi yang ada di film film horror! Serius, hawa yang saya rasakan seperti itu. Perkara lantainya menguning yaa wajar sih, karena belerang. Tapi, tempat rendamnya bukan dari bathup, tapi lebih ke "bath-up keramik & semen". Jika di compare, masih lebih worth it di lokawisata baturraden yang tiket masuknya sudah termasuk bak rendam dengan bath up. 5. Terakhir, ketidaknyamanan saya ketika saya mencoba untuk makan ala ala botram (istilah sunda untuk makan di alam terbuka) dengan kompor portable. Saya liat tidak ada larangan, tapi saat saya masak ko juru pijatnya seperti nyeletuk yang ga enak, yg saya dengar ada istilah "kompor meleduk lah, wah wangiii, dll" mungkin ini kesalahan saya karena tidak beli jajan dilokasi, padahal saya botram tidak di depan kantin. Melainkan di tempat duduk dan meja terbuka, jauh dari kantinnya. Apa karena saya belum menggunakan jasa mereka? Padahal setelah makan ala ala botram ini saya memang memakai jasa mereka. Yaa mungkin ini kesalahan saya atau tidak, monggo... Itu saja mungkin, cukup 3 dulu. Biasanya kalau berkesan saya bisa beri 5. Tapi kekecewaan saya tidak bisa ditutupi. Saya yakin, di kaki gunung Slamet masih banyak wisata yang lebih worth it, yang lebih okee fasilitasnya, yg tidak OVERPRICE, dan lebih well developed. Untuk dokumentasi di lokasi, sepertinya pengulas lainnya sudah cukup yaa. Kita fokus ke kekurangannya supaya jadi bahan pertimbangan buat yang mau kesini.
Bull DoggBull Dogg
This is one of several sulfuric springs and waterfalls in this area. It is easily accessible with a car (with good suspension and tyres!), but also by hiking from a lower elevation. The parking lot is well organized, but be aware that restrooms are extremely basic and impossible to keep clean. There are no western toilets. The parking lot takes you about 400m from the springs, walking down a steep but well maintained track, including on stairs. The hike to the seven spring spouts isn’t demanding at all, but for people who don’t hike much the return to the car might prove difficult and exhausting. Once arriving at the spring area, you need to run gauntlet between street vendors selling anything, and of course food. The seven springs are interesting but maybe the tourism has grown a bit out of proportion. You can drink or bathe in the water, and sulfuric mud massage is offered as well. There is also karaoke available, for the entire valley to enjoy. This is a nice way to spend a morning (it usually rains in the afternoon) but once you have seen it there is little need to go back - as with many of the world’s tourist attractions. Speaking of tourists - this is really off the beaten path for western tourists, and you basically only meet local, Indonesian tourists here, which we found refreshing.
Karina AdiantoKarina Adianto
Pancuran means springs, pitu means seven (the numbers of the spring) It refers to the seven hot springs that flow directly from Slamet Mountain. It took a bit of a hike to reach the top. There were massage areas & tubs filled with the sulphuric hot water. There were some toilet cubicles, which i don't recommend going. But in case of emergency, you don't need to hold in it. Fyi: Sulfur is believed to have antibacterial subtances that fight bacteria, which cause acne and other skin problems. The view from up there was beautiful. The air was clean and it felt peaceful, as we heard the drizzling water surrounds us. Underneath Pancuran Pitu, which still in the same area, there's Tebing Selirang. Tebing selirang is a cliff formed by sulfur sediment from the natural hot water flow of Pancuran Pitu (above it), which is hardened and creates an organic yellowish cliff wall. The water was warm and on several points were hotter than the other parts. It was a nice spot to just relax and enjoy the drizzling sulfuric water and warm steam surrounding you. The terrain was a bit tough for kids. But my 10 years old could do it, with some nagging along the way. Don't forget to bring hat, sunblock, mosquitoes repellant (just in case), hiking stick, hiking shoes, towel & extra clothes.
See more posts
See more posts
hotel
Find your stay

Pet-friendly Hotels in Central Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

(20 Januari 2024)Buat pertimbangan kalian yang mau kesini. Overall untuk pancuran 7 sudah bagus dan menarik, akses mudah juga karena melewati akses jalan dari "kebun raya baturraden". Tapi saya masih ada rasa kecewa terkait pengelolaannya, berikut : 1. Tiket masuk sudah include dengan tiket masuk Wana Wisata Baturraden sebesar 25k (weekend, kalo weekday 20k) + parkir kendaraan 5k. Grand total 55k. Jadi 25k itu mencakup 3 wisata, yaitu Pancuran 7, "Kebun Raya Baturraden", dan Taman Labirin. Tapiii, seperti ulasan saya terkait kebun raya dan taman labirin, keduanya diluar ekspetasi saya... mengecewakan. Untuk tiket yg buat saya memang tidak terlalu mahal. Hanya saja apabila dicompare dengan wisata sejenis. Rasanya tanah Jawa masih memiliki wisata sejenis yang tiketnya lebih sesuai dengan apa yang didapat. 2. Akses Jalan udah okee sampai ke parkiran kendaraan. Ingat kan di awal sudah ada tarif parkir yang wajib kita bayar? Nah, mengherankannya disini ada pungutan lagi sebesar 5k untuk motor dan 10k untuk mobil dengan tujuan "jasa tunggu". Ini bukan perkara nominal yah tapi perihal KEJELASAN BIAYA, mengapa? Pungutan tambahan tersebut mengatasnamakan "jasa tunggu" tapi di bawah karcisnya tertulis "kendaraan mohon untuk dikunci, APABILA KEHILANGAN/KERUSAKAN BUKAN TANGGUNG JAWAB KAMI". Wah keren sekali, paling atas dengan tulisan dicetak tebal dan kapital semua mengatasnamakan "SECURITY MANDIRI JAGA WANA PANCURAN 7 BATURRADEN". Ini sebenarnya SECURITY atau PUNKLY? Tugas utama security adalah pengamanan bukan? Kalau memang ada kehilangan atau kerusakan lantas kita melaporkannya kemana? Sedangkan yang mengatasnamakan "security" yang dicetak tebal dan di kapital semua di karcis tersebut tapi dibawahnya memberikan keterangan seperti lepas tangan? Mantap sekali logikanya 🤫. Tolong untuk pihak terkait, ini perlu diluruskan yah. Kesannya ada dualisme kepengurusan, tidak professional sekali yaah. Kami pikir 55k yang sudah include parkir itu sudah semua. Jadi kami tidak perlu memikirkan yg lain. Oh iyaa, "karcis jasa tunggu" tsb ga ada nomor registernya yaa, kalo modal begitu aja sih saya juga bisa bikin pake Ms. word lalu di bawa ke tukang cetak :) 3. Untuk Wisatanya sendiri memang cukup bagus, setidaknya mengobati kelucuan yang terjadi di tempat parkir tadi. Airnya cukup panas, ada jasa pijat dengan tarif yg tertera disana, lalu ada air terjun "selirang" yang airnya dari air panas pancuran 7. Sehingga bukit yang tadinya tanah menjadi menguning dilapisi belerang menjadikannya unik. 4. Untuk tempat berendam air panasnya (tiket 5k) saya pikir seperti kamar mandi yang ada di film film horror! Serius, hawa yang saya rasakan seperti itu. Perkara lantainya menguning yaa wajar sih, karena belerang. Tapi, tempat rendamnya bukan dari bathup, tapi lebih ke "bath-up keramik & semen". Jika di compare, masih lebih worth it di lokawisata baturraden yang tiket masuknya sudah termasuk bak rendam dengan bath up. 5. Terakhir, ketidaknyamanan saya ketika saya mencoba untuk makan ala ala botram (istilah sunda untuk makan di alam terbuka) dengan kompor portable. Saya liat tidak ada larangan, tapi saat saya masak ko juru pijatnya seperti nyeletuk yang ga enak, yg saya dengar ada istilah "kompor meleduk lah, wah wangiii, dll" mungkin ini kesalahan saya karena tidak beli jajan dilokasi, padahal saya botram tidak di depan kantin. Melainkan di tempat duduk dan meja terbuka, jauh dari kantinnya. Apa karena saya belum menggunakan jasa mereka? Padahal setelah makan ala ala botram ini saya memang memakai jasa mereka. Yaa mungkin ini kesalahan saya atau tidak, monggo... Itu saja mungkin, cukup 3 dulu. Biasanya kalau berkesan saya bisa beri 5. Tapi kekecewaan saya tidak bisa ditutupi. Saya yakin, di kaki gunung Slamet masih banyak wisata yang lebih worth it, yang lebih okee fasilitasnya, yg tidak OVERPRICE, dan lebih well developed. Untuk dokumentasi di lokasi, sepertinya pengulas lainnya sudah cukup yaa. Kita fokus ke kekurangannya supaya jadi bahan pertimbangan buat yang mau kesini.
Ahmad Toni Nuryahya

Ahmad Toni Nuryahya

hotel
Find your stay

Affordable Hotels in Central Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Get the Appoverlay
Get the AppOne tap to find yournext favorite spots!
This is one of several sulfuric springs and waterfalls in this area. It is easily accessible with a car (with good suspension and tyres!), but also by hiking from a lower elevation. The parking lot is well organized, but be aware that restrooms are extremely basic and impossible to keep clean. There are no western toilets. The parking lot takes you about 400m from the springs, walking down a steep but well maintained track, including on stairs. The hike to the seven spring spouts isn’t demanding at all, but for people who don’t hike much the return to the car might prove difficult and exhausting. Once arriving at the spring area, you need to run gauntlet between street vendors selling anything, and of course food. The seven springs are interesting but maybe the tourism has grown a bit out of proportion. You can drink or bathe in the water, and sulfuric mud massage is offered as well. There is also karaoke available, for the entire valley to enjoy. This is a nice way to spend a morning (it usually rains in the afternoon) but once you have seen it there is little need to go back - as with many of the world’s tourist attractions. Speaking of tourists - this is really off the beaten path for western tourists, and you basically only meet local, Indonesian tourists here, which we found refreshing.
Bull Dogg

Bull Dogg

hotel
Find your stay

The Coolest Hotels You Haven't Heard Of (Yet)

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

hotel
Find your stay

Trending Stays Worth the Hype in Central Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Pancuran means springs, pitu means seven (the numbers of the spring) It refers to the seven hot springs that flow directly from Slamet Mountain. It took a bit of a hike to reach the top. There were massage areas & tubs filled with the sulphuric hot water. There were some toilet cubicles, which i don't recommend going. But in case of emergency, you don't need to hold in it. Fyi: Sulfur is believed to have antibacterial subtances that fight bacteria, which cause acne and other skin problems. The view from up there was beautiful. The air was clean and it felt peaceful, as we heard the drizzling water surrounds us. Underneath Pancuran Pitu, which still in the same area, there's Tebing Selirang. Tebing selirang is a cliff formed by sulfur sediment from the natural hot water flow of Pancuran Pitu (above it), which is hardened and creates an organic yellowish cliff wall. The water was warm and on several points were hotter than the other parts. It was a nice spot to just relax and enjoy the drizzling sulfuric water and warm steam surrounding you. The terrain was a bit tough for kids. But my 10 years old could do it, with some nagging along the way. Don't forget to bring hat, sunblock, mosquitoes repellant (just in case), hiking stick, hiking shoes, towel & extra clothes.
Karina Adianto

Karina Adianto

See more posts
See more posts