HTML SitemapExplore

Makam Syech Maulana Ishaq — Local services in East Java

Name
Makam Syech Maulana Ishaq
Description
Nearby attractions
Nearby restaurants
Nearby local services
Nearby hotels
Related posts
Keywords
Makam Syech Maulana Ishaq tourism.Makam Syech Maulana Ishaq hotels.Makam Syech Maulana Ishaq bed and breakfast. flights to Makam Syech Maulana Ishaq.Makam Syech Maulana Ishaq attractions.Makam Syech Maulana Ishaq restaurants.Makam Syech Maulana Ishaq local services.Makam Syech Maulana Ishaq travel.Makam Syech Maulana Ishaq travel guide.Makam Syech Maulana Ishaq travel blog.Makam Syech Maulana Ishaq pictures.Makam Syech Maulana Ishaq photos.Makam Syech Maulana Ishaq travel tips.Makam Syech Maulana Ishaq maps.Makam Syech Maulana Ishaq things to do.
Makam Syech Maulana Ishaq things to do, attractions, restaurants, events info and trip planning
Makam Syech Maulana Ishaq
IndonesiaEast JavaMakam Syech Maulana Ishaq

Basic Info

Makam Syech Maulana Ishaq

4CG2+XQC, Jl. Raya Gresik, Kemantren, Kec. Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur 62264, Indonesia
4.7(1.5K)
Open until 12:00 AM
Save
spot

Ratings & Description

Info

Cultural
Accessibility
attractions: , restaurants: , local businesses:
logoLearn more insights from Wanderboat AI.
Open hoursSee all hours
ThuOpen 24 hoursOpen

Plan your stay

hotel
Pet-friendly Hotels in East Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
Affordable Hotels in East Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
The Coolest Hotels You Haven't Heard Of (Yet)
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.
hotel
Trending Stays Worth the Hype in East Java
Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Reviews

Get the Appoverlay
Get the AppOne tap to find yournext favorite spots!
Wanderboat LogoWanderboat

Your everyday Al companion for getaway ideas

CompanyAbout Us
InformationAI Trip PlannerSitemap
SocialXInstagramTiktokLinkedin
LegalTerms of ServicePrivacy Policy

Get the app

© 2025 Wanderboat. All rights reserved.

Reviews of Makam Syech Maulana Ishaq

4.7
(1,468)
avatar
5.0
6y

Syaifullah, NU Online | Kamis, 29 Maret 2018 21:30 Oleh: Achmad Faiz MN Abdalla Bila Anda berziarah ke Jawa Timur, sudah pasti menuju deretan makam wali di pantai utara. Mulai Sunan Ampel, Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Sunan Giri, Sunan Drajat, sampai Sunan Bonang. Makam-makam itu relatif berdekatan dan tersebar di tiga kabupaten yang bertetangga, yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, serta Syekh Ibrahim Asmaraqandi dan Sunan Bonang di Tuban.

Saya sendiri berasal dari Panceng, sebuah kecamatan di pantai utara yang menjadi bagian Kabupaten Gresik. Di sebelah barat, Panceng berbatasan langsung dengan Paciran yang masuk wilayah administratif Lamongan. Di kecamatan Paciran inilah, makam Sunan Drajat berada, di samping makam Sunan Sedang Duwur, Mbah Mayang Madu, serta Syekh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri).

Paciran, seperti disebutkan dalam Nagarakertagama, dulunya merupakan wilayah mandala, yakni pusat pengembangan agama Hindu. Itu bisa diselidiki dari bentuk bangunan di Sendang Duwur yang berarsitektur tinggi bernuansa Hindu. Di makam Sunan Sendang Duwur, terdapat gapura berbentuk paduraksa serta sebuah gapura mirip Tugu Bentar di Bali. Karena alasan mandala itulah, kemungkinan besar mengapa Paciran menjadi lokasi dakwah para wali masa itu.

Selain di Sendang Duwur, mandala yang lebih kecil diperkirakan pernah dibangun di lokasi yang dulu ditempati Mbah Mayang Madu, yakni di Desa Banjaranyar. Di desa ini pula, pesantren peninggalan Sunan Drajat berdiri sampai sekarang, yakni Pondok Pesantren Sunan Drajat yang diasuh oleh Kiai Abdul Ghofur. Adapun makam Sunan Drajat hanya beberapa ratus meter di selatan pondok pesantren tersebut.

Dulu semasa kecil, baik di madrasah maupun langgar tempat saya mengaji, sering diadakan ziarah ke makam-makam tersebut. Pun masyarakat Panceng, Paciran, dan sekitarnya, sampai sekarang masih melakukan ziarah secara rutin. Baik ke Sendang Duwur, Drajat, maupun Kemantren. Terutama pada malam Jum’at, atau pada hari-hari tertentu, seperti peringatan haul atau menjelang ujian sekolah bagi para pelajar. Tradisi berziarah tersebut relatif masih terjaga sampai sekarang.

Seingat saya dulu, di antara makam itu, yang paling banyak didatangi peziarah adalah Sunan Drajat. Mungkin karena Sunan Drajat dipopulerkan sebagai walisongo yang ditemukan dalam banyak buku, terutama buku-buku sekolah. Yang datang merupakan peziarah dengan bus-bus besar dari berbagai daerah di pulau Jawa, bahkan luar Jawa. Sedang lainnya, relatif hanya diziarahi oleh warga sekitar.

Namun belakangan, makam Syekh Maulana Ishaq di Desa Kemantren mulai menyusul. Setidaknya dalam dua tahun terakhir, makamnya mulai ramai didatangi peziarah. Bus-bus besar kini keluar masuk Desa Kemantren. Rute bus peziarah yang semula dari Sunan Giri langsung ke Drajat atau sebaliknya, kini menyempatkan ke makam Syekh Maulana Ishaq terlebih dahulu.

Perjalanannya ke Desa Kemantren Syekh Maulana Ishaq, sebelum kedatangannya ke Desa Kemantren, berdakwah di daerah Blambangan, Banyuwangi. Raja Blambangan yang berkuasa masa itu adalah Prabu Menak Sembuyu.

Saat wabah penyakit melanda Blambangan, putri Prabu Menak Sembuyu, Nyai Ratna Sekardadu, turut terserang wabah tersebut. Lalu melalui patihnya, Bajul Sengara, raja mengumumkan sebuah sayembara, yakni barangsiapa yang bisa menyembuhkan putrinya, akan dijadikan suami putrinya serta akan diberi sebagian wilayah kerajaan Blambangan.

Bajul Sengara lantas mendapat kabar bahwa di sekitar Gunung Selangu ada seorang resi sakti. Orang yang dimaksud itu adalah Syekh Maulana Ishaq. Bajul Sengara pun akhirnya menemui Syekh Maulana Ishaq dan menyampaikan maksud kedatangannya.

Singkat cerita, Syekh Maulana Ishaq berhasil mengobati putri raja. Sang Raja pun memenuhi janjinya untuk menikahkan keduanya dan memberi kedudukan Syekh Maulana Ishaq sebagai penguasa di Blambangan bagian utara. Raja beserta keluarganya pun bersedia mengikuti agama yang dianut...

   Read more
avatar
5.0
3y

Bila Anda berziarah ke Jawa Timur, sudah pasti menuju deretan makam wali di pantai utara. Mulai Sunan Ampel, Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Sunan Giri, Sunan Drajat, sampai Sunan Bonang. Makam-makam itu relatif berdekatan dan tersebar di tiga kabupaten yang bertetangga, yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, serta Syekh Ibrahim Asmaraqandi dan Sunan Bonang di Tuban.

Saya sendiri berasal dari Panceng, sebuah kecamatan di pantai utara yang menjadi bagian Kabupaten Gresik. Di sebelah barat, Panceng berbatasan langsung dengan Paciran yang masuk wilayah administratif Lamongan. Di kecamatan Paciran inilah, makam Sunan Drajat berada, di samping makam Sunan Sedang Duwur, Mbah Mayang Madu, serta Syekh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri).

Paciran, seperti disebutkan dalam Nagarakertagama, dulunya merupakan wilayah mandala, yakni pusat pengembangan agama Hindu. Itu bisa diselidiki dari bentuk bangunan di Sendang Duwur yang berarsitektur tinggi bernuansa Hindu. Di makam Sunan Sendang Duwur, terdapat gapura berbentuk paduraksa serta sebuah gapura mirip Tugu Bentar di Bali. Karena alasan mandala itulah, kemungkinan besar mengapa Paciran menjadi lokasi dakwah para wali masa itu.

Selain di Sendang Duwur, mandala yang lebih kecil diperkirakan pernah dibangun di lokasi yang dulu ditempati Mbah Mayang Madu, yakni di Desa Banjaranyar. Di desa ini pula, pesantren peninggalan Sunan Drajat berdiri sampai sekarang, yakni Pondok Pesantren Sunan Drajat yang diasuh oleh Kiai Abdul Ghofur. Adapun makam Sunan Drajat hanya beberapa ratus meter di selatan pondok...

   Read more
avatar
5.0
8y

Aura makam menenangkan. Masjidnya besar dan bersih. Imam masjid suaranya merdu menyentuh kalbu. Tipikal warisan ulama pewaris Nabi SAW terindikasi dgn nuansa damai dan tentram di area makam. Luar biasa! Di tepi pantai utara Lamongan, angin laut berhembus pelan mengiringi langkah para peziarah yang datang bukan sekadar untuk menabur doa, tapi juga menelusuri jejak dakwah seorang ulama besar: Syekh Maulana Ishaq, ayah dari Sunan Giri, tokoh penting Wali Songo.

Terletak di Desa Kemantren, Paciran, makam ini menyuguhkan suasana tenang yang berpadu dengan panorama laut lepas. Lokasinya strategis, tidak jauh dari jalur ziarah populer antara makam Sunan Drajat dan Sunan Giri, dan mudah dijangkau dari Jalan Daendels.

Kompleks makam ini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir tokoh sejarah penting, tetapi juga saksi bisu perkembangan Islam di wilayah Blambangan hingga pesisir Lamongan. Di dalamnya terdapat Masjid Al-Abror yang berdiri megah, serta sumur tua yang airnya dipercaya membawa keberkahan.

Duduk di gazebo bambu di tepi pantai, pengunjung bisa merenung dalam sunyi atau sekadar menikmati debur ombak dan aroma laut. Fasilitas pendukung seperti lahan parkir luas dan warung lokal menambah kenyamanan pengalaman ziarah di sini.

Bukan sekadar destinasi religi, Makam Syekh Maulana Ishaq adalah lorong waktu yang membawa kita menyelami sejarah, budaya, dan spiritualitas Jawa...

   Read more
Page 1 of 7
Previous
Next

Posts

CarubananCarubanan
Syaifullah, NU Online | Kamis, 29 Maret 2018 21:30 Oleh: Achmad Faiz MN Abdalla Bila Anda berziarah ke Jawa Timur, sudah pasti menuju deretan makam wali di pantai utara. Mulai Sunan Ampel, Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Sunan Giri, Sunan Drajat, sampai Sunan Bonang. Makam-makam itu relatif berdekatan dan tersebar di tiga kabupaten yang bertetangga, yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, serta Syekh Ibrahim Asmaraqandi dan Sunan Bonang di Tuban. Saya sendiri berasal dari Panceng, sebuah kecamatan di pantai utara yang menjadi bagian Kabupaten Gresik. Di sebelah barat, Panceng berbatasan langsung dengan Paciran yang masuk wilayah administratif Lamongan. Di kecamatan Paciran inilah, makam Sunan Drajat berada, di samping makam Sunan Sedang Duwur, Mbah Mayang Madu, serta Syekh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Paciran, seperti disebutkan dalam Nagarakertagama, dulunya merupakan wilayah mandala, yakni pusat pengembangan agama Hindu. Itu bisa diselidiki dari bentuk bangunan di Sendang Duwur yang berarsitektur tinggi bernuansa Hindu. Di makam Sunan Sendang Duwur, terdapat gapura berbentuk paduraksa serta sebuah gapura mirip Tugu Bentar di Bali. Karena alasan mandala itulah, kemungkinan besar mengapa Paciran menjadi lokasi dakwah para wali masa itu. Selain di Sendang Duwur, mandala yang lebih kecil diperkirakan pernah dibangun di lokasi yang dulu ditempati Mbah Mayang Madu, yakni di Desa Banjaranyar. Di desa ini pula, pesantren peninggalan Sunan Drajat berdiri sampai sekarang, yakni Pondok Pesantren Sunan Drajat yang diasuh oleh Kiai Abdul Ghofur. Adapun makam Sunan Drajat hanya beberapa ratus meter di selatan pondok pesantren tersebut. Dulu semasa kecil, baik di madrasah maupun langgar tempat saya mengaji, sering diadakan ziarah ke makam-makam tersebut. Pun masyarakat Panceng, Paciran, dan sekitarnya, sampai sekarang masih melakukan ziarah secara rutin. Baik ke Sendang Duwur, Drajat, maupun Kemantren. Terutama pada malam Jum’at, atau pada hari-hari tertentu, seperti peringatan haul atau menjelang ujian sekolah bagi para pelajar. Tradisi berziarah tersebut relatif masih terjaga sampai sekarang. Seingat saya dulu, di antara makam itu, yang paling banyak didatangi peziarah adalah Sunan Drajat. Mungkin karena Sunan Drajat dipopulerkan sebagai walisongo yang ditemukan dalam banyak buku, terutama buku-buku sekolah. Yang datang merupakan peziarah dengan bus-bus besar dari berbagai daerah di pulau Jawa, bahkan luar Jawa. Sedang lainnya, relatif hanya diziarahi oleh warga sekitar. Namun belakangan, makam Syekh Maulana Ishaq di Desa Kemantren mulai menyusul. Setidaknya dalam dua tahun terakhir, makamnya mulai ramai didatangi peziarah. Bus-bus besar kini keluar masuk Desa Kemantren. Rute bus peziarah yang semula dari Sunan Giri langsung ke Drajat atau sebaliknya, kini menyempatkan ke makam Syekh Maulana Ishaq terlebih dahulu. Perjalanannya ke Desa Kemantren Syekh Maulana Ishaq, sebelum kedatangannya ke Desa Kemantren, berdakwah di daerah Blambangan, Banyuwangi. Raja Blambangan yang berkuasa masa itu adalah Prabu Menak Sembuyu. Saat wabah penyakit melanda Blambangan, putri Prabu Menak Sembuyu, Nyai Ratna Sekardadu, turut terserang wabah tersebut. Lalu melalui patihnya, Bajul Sengara, raja mengumumkan sebuah sayembara, yakni barangsiapa yang bisa menyembuhkan putrinya, akan dijadikan suami putrinya serta akan diberi sebagian wilayah kerajaan Blambangan. Bajul Sengara lantas mendapat kabar bahwa di sekitar Gunung Selangu ada seorang resi sakti. Orang yang dimaksud itu adalah Syekh Maulana Ishaq. Bajul Sengara pun akhirnya menemui Syekh Maulana Ishaq dan menyampaikan maksud kedatangannya. Singkat cerita, Syekh Maulana Ishaq berhasil mengobati putri raja. Sang Raja pun memenuhi janjinya untuk menikahkan keduanya dan memberi kedudukan Syekh Maulana Ishaq sebagai penguasa di Blambangan bagian utara. Raja beserta keluarganya pun bersedia mengikuti agama yang dianut Syekh Maulana I
Your browser does not support the video tag.
Rudi HarionoRudi Hariono
Tempat luas dan indah, dekat pantai juga, tempat parkir juga luas, mungkin kalau di pafing lebih sip karana kalau pas lagi angin pasti debu masuk ke mata
Gus Fik (Rd. Rofik)Gus Fik (Rd. Rofik)
Aura makam menenangkan. Masjidnya besar dan bersih. Imam masjid suaranya merdu menyentuh kalbu. Tipikal warisan ulama pewaris Nabi SAW terindikasi dgn nuansa damai dan tentram di area makam. Luar biasa! Di tepi pantai utara Lamongan, angin laut berhembus pelan mengiringi langkah para peziarah yang datang bukan sekadar untuk menabur doa, tapi juga menelusuri jejak dakwah seorang ulama besar: Syekh Maulana Ishaq, ayah dari Sunan Giri, tokoh penting Wali Songo. Terletak di Desa Kemantren, Paciran, makam ini menyuguhkan suasana tenang yang berpadu dengan panorama laut lepas. Lokasinya strategis, tidak jauh dari jalur ziarah populer antara makam Sunan Drajat dan Sunan Giri, dan mudah dijangkau dari Jalan Daendels. Kompleks makam ini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir tokoh sejarah penting, tetapi juga saksi bisu perkembangan Islam di wilayah Blambangan hingga pesisir Lamongan. Di dalamnya terdapat Masjid Al-Abror yang berdiri megah, serta sumur tua yang airnya dipercaya membawa keberkahan. Duduk di gazebo bambu di tepi pantai, pengunjung bisa merenung dalam sunyi atau sekadar menikmati debur ombak dan aroma laut. Fasilitas pendukung seperti lahan parkir luas dan warung lokal menambah kenyamanan pengalaman ziarah di sini. Bukan sekadar destinasi religi, Makam Syekh Maulana Ishaq adalah lorong waktu yang membawa kita menyelami sejarah, budaya, dan spiritualitas Jawa secara utuh.
See more posts
See more posts
hotel
Find your stay

Pet-friendly Hotels in East Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Syaifullah, NU Online | Kamis, 29 Maret 2018 21:30 Oleh: Achmad Faiz MN Abdalla Bila Anda berziarah ke Jawa Timur, sudah pasti menuju deretan makam wali di pantai utara. Mulai Sunan Ampel, Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Sunan Giri, Sunan Drajat, sampai Sunan Bonang. Makam-makam itu relatif berdekatan dan tersebar di tiga kabupaten yang bertetangga, yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, serta Syekh Ibrahim Asmaraqandi dan Sunan Bonang di Tuban. Saya sendiri berasal dari Panceng, sebuah kecamatan di pantai utara yang menjadi bagian Kabupaten Gresik. Di sebelah barat, Panceng berbatasan langsung dengan Paciran yang masuk wilayah administratif Lamongan. Di kecamatan Paciran inilah, makam Sunan Drajat berada, di samping makam Sunan Sedang Duwur, Mbah Mayang Madu, serta Syekh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Paciran, seperti disebutkan dalam Nagarakertagama, dulunya merupakan wilayah mandala, yakni pusat pengembangan agama Hindu. Itu bisa diselidiki dari bentuk bangunan di Sendang Duwur yang berarsitektur tinggi bernuansa Hindu. Di makam Sunan Sendang Duwur, terdapat gapura berbentuk paduraksa serta sebuah gapura mirip Tugu Bentar di Bali. Karena alasan mandala itulah, kemungkinan besar mengapa Paciran menjadi lokasi dakwah para wali masa itu. Selain di Sendang Duwur, mandala yang lebih kecil diperkirakan pernah dibangun di lokasi yang dulu ditempati Mbah Mayang Madu, yakni di Desa Banjaranyar. Di desa ini pula, pesantren peninggalan Sunan Drajat berdiri sampai sekarang, yakni Pondok Pesantren Sunan Drajat yang diasuh oleh Kiai Abdul Ghofur. Adapun makam Sunan Drajat hanya beberapa ratus meter di selatan pondok pesantren tersebut. Dulu semasa kecil, baik di madrasah maupun langgar tempat saya mengaji, sering diadakan ziarah ke makam-makam tersebut. Pun masyarakat Panceng, Paciran, dan sekitarnya, sampai sekarang masih melakukan ziarah secara rutin. Baik ke Sendang Duwur, Drajat, maupun Kemantren. Terutama pada malam Jum’at, atau pada hari-hari tertentu, seperti peringatan haul atau menjelang ujian sekolah bagi para pelajar. Tradisi berziarah tersebut relatif masih terjaga sampai sekarang. Seingat saya dulu, di antara makam itu, yang paling banyak didatangi peziarah adalah Sunan Drajat. Mungkin karena Sunan Drajat dipopulerkan sebagai walisongo yang ditemukan dalam banyak buku, terutama buku-buku sekolah. Yang datang merupakan peziarah dengan bus-bus besar dari berbagai daerah di pulau Jawa, bahkan luar Jawa. Sedang lainnya, relatif hanya diziarahi oleh warga sekitar. Namun belakangan, makam Syekh Maulana Ishaq di Desa Kemantren mulai menyusul. Setidaknya dalam dua tahun terakhir, makamnya mulai ramai didatangi peziarah. Bus-bus besar kini keluar masuk Desa Kemantren. Rute bus peziarah yang semula dari Sunan Giri langsung ke Drajat atau sebaliknya, kini menyempatkan ke makam Syekh Maulana Ishaq terlebih dahulu. Perjalanannya ke Desa Kemantren Syekh Maulana Ishaq, sebelum kedatangannya ke Desa Kemantren, berdakwah di daerah Blambangan, Banyuwangi. Raja Blambangan yang berkuasa masa itu adalah Prabu Menak Sembuyu. Saat wabah penyakit melanda Blambangan, putri Prabu Menak Sembuyu, Nyai Ratna Sekardadu, turut terserang wabah tersebut. Lalu melalui patihnya, Bajul Sengara, raja mengumumkan sebuah sayembara, yakni barangsiapa yang bisa menyembuhkan putrinya, akan dijadikan suami putrinya serta akan diberi sebagian wilayah kerajaan Blambangan. Bajul Sengara lantas mendapat kabar bahwa di sekitar Gunung Selangu ada seorang resi sakti. Orang yang dimaksud itu adalah Syekh Maulana Ishaq. Bajul Sengara pun akhirnya menemui Syekh Maulana Ishaq dan menyampaikan maksud kedatangannya. Singkat cerita, Syekh Maulana Ishaq berhasil mengobati putri raja. Sang Raja pun memenuhi janjinya untuk menikahkan keduanya dan memberi kedudukan Syekh Maulana Ishaq sebagai penguasa di Blambangan bagian utara. Raja beserta keluarganya pun bersedia mengikuti agama yang dianut Syekh Maulana I
Carubanan

Carubanan

hotel
Find your stay

Affordable Hotels in East Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Get the Appoverlay
Get the AppOne tap to find yournext favorite spots!
Tempat luas dan indah, dekat pantai juga, tempat parkir juga luas, mungkin kalau di pafing lebih sip karana kalau pas lagi angin pasti debu masuk ke mata
Rudi Hariono

Rudi Hariono

hotel
Find your stay

The Coolest Hotels You Haven't Heard Of (Yet)

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

hotel
Find your stay

Trending Stays Worth the Hype in East Java

Find a cozy hotel nearby and make it a full experience.

Aura makam menenangkan. Masjidnya besar dan bersih. Imam masjid suaranya merdu menyentuh kalbu. Tipikal warisan ulama pewaris Nabi SAW terindikasi dgn nuansa damai dan tentram di area makam. Luar biasa! Di tepi pantai utara Lamongan, angin laut berhembus pelan mengiringi langkah para peziarah yang datang bukan sekadar untuk menabur doa, tapi juga menelusuri jejak dakwah seorang ulama besar: Syekh Maulana Ishaq, ayah dari Sunan Giri, tokoh penting Wali Songo. Terletak di Desa Kemantren, Paciran, makam ini menyuguhkan suasana tenang yang berpadu dengan panorama laut lepas. Lokasinya strategis, tidak jauh dari jalur ziarah populer antara makam Sunan Drajat dan Sunan Giri, dan mudah dijangkau dari Jalan Daendels. Kompleks makam ini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir tokoh sejarah penting, tetapi juga saksi bisu perkembangan Islam di wilayah Blambangan hingga pesisir Lamongan. Di dalamnya terdapat Masjid Al-Abror yang berdiri megah, serta sumur tua yang airnya dipercaya membawa keberkahan. Duduk di gazebo bambu di tepi pantai, pengunjung bisa merenung dalam sunyi atau sekadar menikmati debur ombak dan aroma laut. Fasilitas pendukung seperti lahan parkir luas dan warung lokal menambah kenyamanan pengalaman ziarah di sini. Bukan sekadar destinasi religi, Makam Syekh Maulana Ishaq adalah lorong waktu yang membawa kita menyelami sejarah, budaya, dan spiritualitas Jawa secara utuh.
Gus Fik (Rd. Rofik)

Gus Fik (Rd. Rofik)

See more posts
See more posts