Menurut penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta (BAY) disimpulkan bahwa di pegunungan Slumlrit dan sekitarnya, di kawasan gunung Patiayam, merupakan daerah yang paling padat temuan fosilnya. Fosil-fosil tersebut antara lain yaitu: Elephantidae (gajah), Bovidae (banteng), Cervidae (kijang), Crocodilidae (buaya), dan Felidae (harimau) . Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta, situs Patiayam adalah situs prasejarah yang lengkap dengan ditemukannya fosil sisa-sisa manusia purba berupa gigi geraham bawah dan pecahan tengkorak manusia (1979) serta penemuan alat-alat batu manusia berupa kapak batu (2007). Benda Cagar Budaya (BCB) di situs Patiayam yang ditemukan oleh warga dan hasil ekskavasi penelitian BAY berjumlah 2.383 buah fosil dimana sebanyak 1.234 buah fosil telah teridentifikasi. Menurut Hary Widiyanto (BAY, 2009), fosil di Situs Patiayam dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu: 1). Fosil Vertebrata 2). Alat-alat batu manusia purba. 3). Fosil tengkorak manusia yang sudah tidak utuh lagi. 4). Fosil fauna hidup di air maupun darat.
Fosil-fosil temuan yang berupa fosil gading gajah, disimpan di Museum Negeri Ronggowarsito, Semarang sebanyak 2 buah,; disimpan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus sebanyak 2 buah ditambah fosil-fosil lainnya disimpan di Museum Mini Patiayam, yang menempati (sementara) sebagian rumah warga Terban yang bernama Rakijan alias Mustofa yang sekaligus sebagai Juru Pelihara Situs Patiayam.
GARDU ATRAKSI ARKEOLOGI Gardu ini dibangun Pemerintah Kabupaten Kudus di kawasan Situs Patiayam, tepatnya di Gunung Nangka, berukuran panjang 6 m, lebar 6 m, dan tinggi +/- 5 m. Di tempat ini pengunjung dapat menyaksikan Benda Cagar Budaya yaitu fosil gading gajah purba yang masih utuh tersimpan di bagian bawah gardu. Dengan adanya gardu ini maka akan menambah sarana edukasi dan rekreasi di situs Patiayam yang telah banyak dikunjungi oleh masyarakat Kudus...
Read moreSitus Pati Ayam, gak nyangka dulu perbukitan ini merupakan belas pegunungan yang menyimpan banyak peninggalan arkeologis heean purba. Situs Pati Ayam ada di Desa Terban Jekulo Kudus Jawa Tengah. Berbeda dengan Sangiran atau Wajak, situs ini baru Ditetapkan sejak September 2005. Museum yang mewadahi hasil temuan ditesmikan oleh Gubernur Jateng saat itu. Dome Pati Ayam ketinggian 350 m dan daerah Patiayam ini terdapat batuan dari zaman Plestosen yang mengandung fosil vertebrata dan manusia purba yang terendap dalam lingkungan sungai dan rawa-rawa. Sebenarnya situs ini sangat lengkap karena ditemukan Homo erectus), fauna vertebrata dan fauna invertabrata. Ada juga hewan laut dan alat-alat batu manusia dari hasil budaya manusia purba yang ditemukan dalam satu pelapisan tanah yang tidak terputus sejak minimal satu juta tahun yang lalu. tahun 1931 saat peneliti asal Belanda Van Es menemukan sembilan jenis fosil hewan vertebrata. Berikutnya hingga tahun 2007 berbagai penelitian dilakukan dan ditemukan 17 spesies hewan vertebrata dan tulang belulang binatang purba antara lain: Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas sp (sejenis Gajah), Rhinocecos sondaicus (badak), Bos banteng (sejenis banteng), Crocodilus, sp (buaya), Ceruus zwaani dan Cervus atau Ydekkeri martim (sejenis Rusa) Corvidae (Rusa), Chelonidae (Kura-Kura), Suidae (Babi Hutan), Tridacna (Kerang laut), Hipopotamidae (Kudanil). Saat ini situs masih dalam tahap lanjut eskavasi, dan desa di sekitarnya juga mulai berbenah meskipun masih sepi pengunjung. Pemda setempat yang mengelola tempat ini juga belum promosi secara besar. HTM cuma 10 ribu ya, berada di pinggir jalur pantura Kudus - Pati masuk sekitar 1 km. #literasyikgalih...
Read moreLokasi menuju situs Patiayam melewati jajaran sawah-sawah yang ketika musim panen, sangat memanjakan mata dengan warna hijau kekuningan. Berjarak sekitar 800m dari jalan besar menuju bangunan museum. Tempat parkir sangat luas, bisa untuk parkir beberapa bus. Apabila dibandingkan dengan bangunan museumnya sendiri, sepertinya harus antri untuk masuk kalau pergi dengan rombongan 5 - 10 orang, Kami datang pada hari Jumat, bukan akhir pekan atau hari libur, sehingga museum sedang tidak banyak pengunjungnya. Situs ini termasuk sangat menarik menurut saya, karena satu-satunya situs yang masih ada kerangka stegodon (gajah purba) hampir utuh dalam suatu kawasan. Bahkan pada masa penggalian, 2 - 3 meter di bawah permukaan tanah sudah bisa ditemukan fosil-fosil binatang, dan serpihan gigi. Kerangka stegodon yang direka ulang untuk menjadi gambaran pengunjung berukuran tinggi 6 meter, panjang 9 meter dan panjang gading 3,7 meter. Bahkan masih ada gading yang ditemukan dengan ukuran panjang lebih dari 3,7 meter! Pengalaman kami bertambah menarik, karena bertemu dengan pemandu bernama Takim yang sangat baik menjelaskan tentang fosil, sejarah, binatang prasejarah, kontur tanah di wilayah patiayam, dan lainnya. Tips dari Takim, apabila mengunjungi museum, jangan ragu untuk bertanya kepada petugas atau guide yang ada untuk tahu informasi mendalam tentang sejarah koleksi museum. Setelah belajar banyak hal tentang prasejarah, tidak ada salahnya untuk memberikan tips kepada pemandu dan mengisi kotak donasi museum. Semoga selanjutnya bisa ditambah informasi dengan dua bahasa, karena situs ini merupakan bagian dari sejarah dunia....
Read more