Lokasi Petirtaan Jolotundo terletak di kaki barat Bukit Bekel, salah satu gunung pendamping di wilayah area Gunung Penanggungan, dan berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Mojokerto, tepatnya di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, berjarak sekitar 50 km arah selatan dari Surabaya dan berjarak sekitar 25 km ke arah tenggara dari Mojokerto. Sampai sekarang, petirtaan ini masih dikunjungi oleh banyak peziarah karena dianggap memiliki khasiat tertentu, baik hari-hari biasa maupun pada malam-malam tertentu menurut penelitian dari beberapa sumber dikatakan mata air Petirtaan Jolotundo memiliki kandungan mineral yang tinggi dan dianggap merupakan mata air terbaik setelah mata air zamzam. Selain fungsi utama sebagai tempat untuk ziarah, pada masa modern tempat ini juga dikembangkan sebagai destinasi wisata keluarga dan pendakian baik untuk kepentingan keagamaan spiritual maupun wisata rekreasi menuju ke Gunung Penanggungan atau Bukit Bekel.
Petirtaan Jolotundo disebut juga dengan Candi Jolotundo atau Jalatunda adalah kompleks petirtaan kuno yang merupakan kawasan kolam suci petirtaan yang dibangun sejak masa Kerajaan Medang yang telah berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, atau lazim disebut Medang periode Jawa Timur dan masih berfungsi hingga sekarang, dugaan paling awal diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Sri Isyana Tunggawijaya putri raja Medang (Mpu Sindok) dengan suaminya Sri Lokapala yang merupakan seorang bangsawan dari pulau Bali.
SEJARAH
Petirtaan ini dianggap sebagai petirtaan tertua di Jawa Timur, berdasarkan pahatan angka tahun yang tertera di salah satu bagian belakang bangunan, yang bertuliskan 899 Saka, atau 977 M. Adanya relief yang terdapat di candi Jolotundo beserta temuan lempengan logamyang bertuliskan nama Dewi Isana dan Agni dapat menjelaskan bahwa candi ini bercorak Hindu. Hasil penelitian Stuterhim mengatakan bahwa petirtaan ini dulunya terdapat sebuah pancuran,yang mana pancuran tersebut mirip dengan bentuk Gunung Penanggungan yang dikelilingi oleh delapan buah puncak yang lebih rendah yang mempunyai arti simbolis sebagai replika Mahameru. Menurut Bosch, relief cerita yang terdapat di candi Jolotundo terdiri dari 16 panel. Yang mana panel 1-13 diambil dari kitab Mahabharata, sedangkan dari panel 14-16 berisikan cerita dari kitab Kathasaritsagara.[3] Menurut sumber lain pendiriannya juga dikaitkan dengan Airlangga dan ayahnya Raja Udayana dari Kerajaan Bedahulu, Bali yang didasari pada tulisan Jawa kuno yang ada di dinding selatan teras pertama candi menyebutkan kalimat Udayana, namun kalimat tersebut tidak berdiri sendiri melainkan bersambung kalimat di samping kata Udayana yang menyebutkan tentang Margayawati kedua kalimat tersebut terdapat dalam sebuah karya sastra kitab Kathasaritsagara, Kathasaritsagara sendiri menceritakan tentang persaingan Raja Udayana dengan Ibunya Margayawati digunung Udayaparwa. Setelah 14 tahun pengasingan, kemudian raja Udayana kembali bertemu dengan yang bernama Sahasranika yang merupakan raja dari kerajaan Vasta. Sementara Airlangga adalah anak pasangan raja Udayana wangsa Warmadewa dari Bali dengan putri Kerajaan Medang bernama Mahendradatta Airlangga merupakan pewaris kekuasaan Medang dan penerus wangsa Isyana, yang mendirikan Medang Kahuripan. Sebagai kelanjutan Medang yang telah runtuh akibat serangan Haji Wurawari dari Lwaram (sekitar Cepu, Blora) sekutu Sriwijaya musuh besar dari kerajaan Medang dan wangsa Isyana, dikemudian Kerajaan Airlangga tersebut kembali terpecah menjadi kerajaan Janggala dan Panjalu akibat dari perebutan takhta antara kedua putranya Sri Samarawijaya dan...
Read moreCandi Jolotundo, merupakan bangunan Patirtan peninggalan Raja Udayana dari Bali diperuntukan bagi Raja Airlangga setelah dinobatkan menjadi Raja Sumedang Kahuripan. Secara geografis Candi Jolotundo berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (Mdpl) tepatnya di bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan.
Lokasinya berada di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Petirthan Jolotundo, ini memiliki sumber mata air kualitasnya terbaik setelah air zam-zam atau nomer dua dunia. Tak pelak, masyarakat Mojokerto maupun luar Mojokerto, banyak datang untuk melakukan ritual dan mengambil air dipercaya memiliki banyak khasiat ini.
Candi Jolotundo terdapat dua sendang (tempat mandi) berdindingkan batu, di sisi kiri dan sisi kanan, berukuran 2x2 meter menghadap ke Barat. Air sumber keluar dari lubang di tengah batu dinding di sisi timur. Sementara di tengah ada kolam bertingkat, dan dibawahnya terdapat kolam berukuran sekitar 6x8 meter, dan banyak terdapat ikan berukuran besar.
Dipercaya, dua sendang di Candi Jolotundo, merupakan tempat mandi petinggi dan kerabat kerajaan untuk mensucikan diri. Kolam di sisi kiri Candi untuk tempat mandi laki laki, sedangkan di sisi kanan untuk wanita
Menurutnya, mata air keluar dari Candi Jolotundo ini, dipercaya masyarakat punya banyak khasiat, bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan bisa membuat awet muda. Banyak masyarakat datang untuk mengambil air sumber Jolotundo untuk...
Read morePRIHATIN SAYA DI TEMPAT YG SUCI KERAMAT INI , BARANG SAYA HILANG SAAT MEDITASI DI JOLOTUNDO DICURI PEZIARAH LAIN
Hari Sabtu , 17 Juni 2023 saya meditasi di atas yaitu dekat payung Disana ada 4 orang di pojok tidak meditasi tapi ngomong ngobrol mengganggu orang yg sedang hening meditasi.
Satu orang lebih dulu duduk berdoa tapi bukan kelompok yg 4 orang
Saya dan adik saya ambil tempat meditasi. Saya meletakan barang terbungkus jilbab putih kembang kembang/ada ornamenya
Saat saya hening terganggu dgn org yg ngobrol tersebut, saya teruskan doa , selesai doa saya cepat cepat turun dgn adik saya
Saya GK ingat jika barang saya ketinggalan, baru ingat setelah pulang di rumah subuh , saya balik lagi jam 5 atau setengah 6 ke jolotundo naik grab motor dgn harapan barang ketemu
Ternyata BARANG TIDAK KETEMU, SUDAH TANYA SEMUA ORANG YG NGINAP, JUGA JURU OELIHARA DAN BERSIH BERSIH GAK TAU BARANG ITU
TOLONG JIKA MENEMUKAN BARANG SAYA HUBUNGI SAYA DI Pesan massanger atau IG...
Read more