Berdasarkan catatan sejarah, Kota Pariaman pernah dijadikan basis pertahanan karena pada Agresi Militer Belanda I, tentara Belanda berusaha menguasai Sumbar yang secara perlahan menguasai bagian pesisir provinsi itu. Pada 8 Maret 1946, Mayor Sulaiman diperintahkan oleh komandan Divisi III Banteng untuk memindahkan Markas Komando TKR Laut Sumatera Tengah ke Pariaman karena kondisi Kota Padang yang sudah tidak aman. Sejak itu, kota tersebut dikenal sebagai Markas AL Pangkalan Besar Pariaman. Pada Agresi Militer Belanda II, tentara Belanda berusaha merebut Pariaman dengan melakukan beberapa kali serangan. Serangan pertama terjadi pada 19 Desember 1948 dengan menggunakan kapal perang serta meriam kaliber 130 dari depan Pulau Angso Duo, Pariaman mengarah ke markas TNI Angkatan Laut. Serangan tersebut dibalas oleh TNI Angkatan Laut dengan tembakan meriam tomong buatan Sawahlunto, namun tidak berhasil dikarenakan jarak tembaknya tidak bisa mencapai sasaran. Pada pukul 05.30 WIB Januari 1949, Belanda kembali melancarkan serangan ke markas TNI Angkatan Laut di Pariaman. Serangan itu dilakukan melalui pesawat tempur P-51 Mustang dengan menembaki dan membom TNI Angkatan Laut di Kelurahan Alai Gelombang, Kecamatan Pariaman Tengah, Pariaman guna melindungi tentara Belanda masuk ke Pariaman. Pada pukul 09.00 WIB, tentara Belanda masuk dari arah Kelurahan Alai Gelombang dan berpencar menjadi tiga kelompok yaitu Kelurahan Jawi-jawi, Kampung Jawa, dan Kampung Nias tujuannya ialah mengepung Pariaman. Meskipun serangan Belanda semakin gencar, TNI Angkatan Laut tetap bertahan di posisinya masing-masing, salah satunya bunker yang terletak di Jalan Tugu Perjuangan dekat kantor Pos Pariaman sekarang. Di dalam bunker tersebut terdapat 36 orang yang terdiri dari TNI Angkatan Laut dan warga sipil. Pada pukul 11.00 WIB, terjadi pertempuran di bunker itu. TNI Angkatan Laut kehabisan amunisi sehingga terpaksa keluar agar tidak ditangkap oleh tentara Belanda. Namun mereka disambut dengan tembakan tentara Belanda sehingga 34 orang gugur dan hanya dua orang yang selamat. Sorenya, Belanda telah menguasai Pariaman sedangkan TNI Angkatan Laut diperintahkan untuk meninggalkan Pariaman. Pada 17 April 1949, Belanda melakukan serangan dengan mendarat di pantai Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padangpariaman. Kedatangan pasukan Belanda tersebut disambut dengan tembakan dari TNI Angkatan Laut. Pasukan Belanda yang akan mendarat terpaksa memundurkan diri dan kembali ke kapal. Pada Juli 1949, Belanda mencoba menyerang ke Sungai Limau dengan menggunakan sejumlah tank dan panser, namun juga mendapat serangan dari TNI Angkatan Laut selama dua jam sehingga menewaskan tujuh orang tentara Belanda. Pada 6 Januari 1950, seluruh anggota TNI Angkatan Laut bisa masuk ke Pariaman yang merupakan pangkalan besar TNI Angkatan Laut yang telah ditinggalkan sekitar satu tahun....
   Read moreIt's clean!!! Omigosh... Well, at least much cleaner than other sight seeing places I've been seeing. Most of them anyway shrug. Free and quite safe play ground for kids, easy access, plenty of public transportation to choose, angdes, bendi,...
   Read moreMonumen ini merupakan bukti sejarah pergerakan angkatan laut di Sumatera Barat ketika menghadapi penjajah. Awalnya pangkalan angkatan laut berada di Pesisir Selatan namun akhirnya dipindahkan ke Pariaman atas dasar beberapa pertimbangan. Namun monumen ini baru diresmikan beberapa tahun belakangan. Sekarang monumen ini menjadi salah satu bukti sejarah dan tempat wisata di Gandoriah Pariaman. Banyak pengunjung yang sekedar datang untuk berwisata dan ada juga yang benar-benar ingin melihat bukti sejarah pahlawan angkatan laut Indonesia ini. Oiya, disini adalah tempat wisata bagi setiap tingkatan umur. Semoga...
   Read more