Sunda Kelapa, a historic harbor in Jakarta, Indonesia, bears a rich and intricate history that intertwines with the rise and fall of empires, the ebb and flow of trade, and the resilience of the human spirit. From its humble beginnings as a small seaport to its transformation into a bustling commercial hub and its eventual decline, Sunda Kelapa has witnessed the evolution of Indonesia's maritime heritage.
Emergence as a Trading Hub:
Sunda Kelapa's origins can be traced back to the 13th century, when it emerged as the main port of the Sunda Kingdom, a powerful Hindu kingdom that ruled over western Java. The port's strategic location, nestled along the Ciliwung River estuary and close to the Sunda Strait, made it a vital link to the lucrative spice trade routes of the Nusantara archipelago.
Arrival of the Portuguese:
In the early 16th century, the arrival of European powers, particularly the Portuguese, marked a turning point in Sunda Kelapa's history. Seeking to establish a foothold in the lucrative spice trade, the Portuguese forged an alliance with the Sunda Kingdom in 1512, securing access to Sunda Kelapa's port and establishing a fortified trading post.
Dutch Colonialism and the Rise of Batavia:
However, the Portuguese presence in Sunda Kelapa was short-lived. In 1527, the Dutch East India Company (VOC) arrived in the region, seeking to expand their own trading empire. After a series of conflicts with the Portuguese and the Sunda Kingdom, the VOC established their own fortified city, Batavia, just north of Sunda Kelapa in 1619.
Under Dutch rule, Sunda Kelapa continued to thrive as a commercial hub, serving as the gateway for trade between Batavia and the rest of the world. The port, now known as the Haven Kanaal ("Harbor Canal"), was a bustling center of activity, with ships laden with spices, textiles, and other goods arriving from across the globe.
Decline and Transformation:
In the late 19th century, the construction of the Tanjung Priok port, further north along Jakarta's coast, gradually diminished the importance of Sunda Kelapa. As larger ships became more common, Tanjung Priok's deeper harbor proved more suitable for modern trade.
Despite its decline as a commercial hub, Sunda Kelapa retained its historical significance and cultural value. The port's traditional wooden phinisi schooners, still used for inter-island trade, became a symbol of Indonesia's maritime heritage. The surrounding area transformed into a vibrant fishing community, with traditional wooden boats lining the canals and bustling fish markets attracting visitors.
Today and Beyond:
Today, Sunda Kelapa stands as a testament to Indonesia's rich maritime history. The port's traditional fishing boats, the phinisi schooners, continue to grace the waters, adding a touch of nostalgia to the bustling harbor. While its commercial significance has diminished, Sunda Kelapa remains a symbol of Jakarta's maritime heritage and a reminder of the city's transformation from a small seaport to a...
Read moreSunda Kelapa (Sd. Sunda Kalapa) adalah nama sebuah pelabuhan dan tempat sekitarnya di Jakarta, Indonesia. Pelabuhan ini terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527. Kala itu Kalapa, nama aslinya, merupakan pelabuhan Kerajaan Sunda atau yang lebih dikenal saat itu sebagai Kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor) yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon. Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada zaman pendahulu Pajajaran, yaitu kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera Pelabuhan Kalapa telah dikenal semenjak abad ke-12 dan kala itu merupakan pelabuhan terpenting Pajajaran. Kemudian pada masa masuknya Islam dan para penjajah Eropa, Kalapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Akhirnya Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai lebih dari 300 tahun. Para penakluk ini mengganti nama pelabuhan Kalapa dan daerah sekitarnya. Namun pada awal tahun 1970-an, nama kuno Kalapa kembali digunakan sebagai nama resmi pelabuhan tua ini dalam bentuk "Sunda Kelapa". Masa Hindu-Buddha Sunting Menurut penulis Portugis Tomé Pires, Kalapa adalah pelabuhan terbesar di Jawa Barat, selain Sunda (Banten), Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk yang juga dimiliki Pajajaran.[1] Sunda Kelapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modern: dayeuh yang berarti kota) dalam tempo dua hari.[2]
Pelabuhan ini telah dipakai sejak zaman Tarumanagara dan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-5 dan saat itu disebut Sundapura. Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk milik Kerajaan Sunda, yang memiliki ibukota di Pakuan Pajajaran atau Pajajaran yang saat ini menjadi Kota Bogor. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu. Masa Islam dan awal kolonialisme Barat Sunting Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, para penjelajah Eropa mulai berlayar mengunjungi sudut-sudut dunia. Bangsa Portugis berlayar ke Asia dan pada tahun 1511, mereka bahkan bisa merebut kota pelabuhan Malaka, di Semenanjung Malaka. Malaka dijadikan basis untuk penjelajahan lebih lanjut di Asia Tenggara dan Asia Timur. Tome Pires, salah seorang penjelajah Portugis, mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa antara tahun 1512 dan 1515. Ia menggambarkan bahwa pelabuhan Sunda Kelapa ramai disinggahi pedagang-pedagang dan pelaut dari luar seperti dari Sumatra, Malaka, Sulawesi Selatan, Jawa dan Madura. Menurut laporan tersebut, di Sunda Kelapa banyak diperdagangkan lada, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan. Laporan Portugis menjelaskan bahwa Sunda Kelapa terbujur sepanjang satu atau dua kilometer di atas potongan-potongan tanah sempit yang dibersihkan di kedua tepi sungai Ciliwung. Tempat ini ada di dekat muaranya yang terletak di teluk yang terlindung oleh beberapa buah pulau. Sungainya memungkinkan untuk dimasuki 10 kapal dagang yang masing-masing memiliki kapasitas sekitar 100 ton. Kapal-kapal tersebut umumnya dimiliki oleh orang-orang Melayu, Jepang dan Tionghoa. Di samping itu ada pula kapal-kapal dari daerah yang sekarang disebut Indonesia Timur. Sementara itu kapal-kapal Portugis dari tipe kecil yang memiliki kapasitas muat antara 500 - 1.000 ton harus berlabuh di depan pantai. Tome Pires juga menyatakan bahwa barang-barang komoditas dagang Sunda diangkut...
Read moreMenarik dan selalu menarik, melihat kapal kayu dengan ukuran besar, apalagi masih melakukan perjalanan di lautan di jaman perahu menggunakan baja. Pembuatan kapal kayu sebagai sarana tranportasi perairan laut masih berjalan hingga saat ini.
Pelabuhan nelayan dan angkutan barang antar pulau masih menggunakan kapal kayu (kapal pinisi), contohnya di pelabuhan Sunda Kelapa.
Tradisi pembuatan kapal kayu masih dikerjakan untuk kebutuhan nelayan di daerah pesisir, baik ukuran kecil dan besar. Ukuran kecil untuk nelayan berangkat harian, sedangkan ukuran besar, melaut butuh waktu bulanan menjelajahi lautan dalam dan menghindari palung laut yang bunyinya dan arusnya mengerikan, kata nelayan Indramayu yang melaut ke wilayah lautan timur Indonesia.
Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta merupakan pelabuhan yang mempunyai sejarah yang panjang, sejak jaman kerajaan Padjadjaran, Banten, Demak dan masuknya armada asing untuk berdagang dari Bangsa Portugis sampai penjajahan Belanda.
Dua hal yang menarik dari pelabuhan Sunda Kelapa ini, karena perubahan lingkungan dengan turunnya daratan Jakarta sedikit-sedikit tiap tahunnya dan semakin berkurangnya jumlah kapalnya.
Pengembangan pariwisata "Pelabuhan Sunda Kelapa" diperlukan sudut pandang baru, baik dari Lingkungan Pelabuhan, Tranportasi Kelautan (kapal pinisi), Sudut Pandang Kesejarahan Pelabuhan? Semoga ke depan menjadi tujuan wisata...
Read more
