It's was a bad and unpleasant experience despite the initial attention of the employees, The place has an abandoned appearance. The visit begins with a path of indigenous species of spices such as lemongrass, cinnamon or the trees of the two coffee qualities, all looking decrepit with leaves piled by bugs. But the worst comes with the vision of caged animals, fed to coffee berries that do not digest, with visible signs of depression by loneliness, isolation, and deprivation of life in their natural habitat. They tried to persuade us, me and a veterinary friend, that the animals were released at night in the enclosure that is not fenced, with the nearby road, and who in the morning, would return on their own initiative for their diminutive cages, with barns in base, so that the ingesting berries will fall down and can be collected to make the Luwak coffee. The tour ends with a tasting of a cafe and tea offer where it is proposed that in the purchase of a cup of Luwak coffee for the absurdity of 50K they offer a cup of Bali coffee that you can't drink as bad as it is. At the end there’s a coffee and tea shop offering with an attractive packaging and very high prices (3x) for tourists to feel tempted to take an expensive memory of Bali and the quality of the products have nothing similar to the ones they give us...
Read moreSalah satu tempat bagi baik orang lokal, tamu domestik maupun turis dari manca negara untuk mencoba cita rasa kopi Luwak asli yang ada di Kawasan desa Baturiti dalam perjalanan tour ke daerah resort pegunungan di Bedugul atau ketika kembali dari sana. Bagi kebanyakan peminum atau penggemar kopi tradisional mungkin segelas atau secangkir kopi Bali hitam pahit atau dengan sedikit gula sudah memadai untuk memenuhi kebiasaan atau kebutuhan minum kopi sehari-hari, 3x minum hangat-hangat untuk di minum pagi, siang dan petang. Bagi penggemar kopi Bali hitam tradisional karena sudah terbiasa minum yang demikian maka mereka tidak akan mudah untuk berpindah ke lain hati. Namun tidak sedikit juga yang merasa penasaran dan mencoba kopi luwak instant murah yang sachetan yang banyak dijual di warung-warung dan bertanya-tanya apa benar kopi Luwak itu rasanya seperti itu ya. Beda merk kok beda rasa. Mis : kopi Luwak merk A kok beda rasanya dengan kopi Luwak merk B padahal sama-sama kopi Luwak. Jadi agar tidak penasaran dengan rasa kopi Luwak asli yang sebenarnya, penggemar kopi harus pergi ke tempat pembuatan kopi tersebut dan mencoba kopi itu dengan cita rasa aslinya tanpa dicampur dengan elemen atau campuran-campuran yang lainnya. Tempat ini menawarkan khususnya kepada penggemar kopi yang berasal dari luar Indonesia cita rasa kopi yang boleh jadi tidak ada tersedia di negara mereka atau penasaran dengan kopi serupa yang sudah mereka punya. Di tempat-tempat seperti inilah kami ajak tamu tamu kami, jika mereka berkenan, untuk singgah dalam perjalanan tour ke suatu tempat untuk mencobanya. Tempat-tempat seperti ini di pedesaan tumbuh dan berkembang belakangan ini seperti jamur di musim hujan, ada dimana-mana. Kemana turis pergi mereka ada disana. Ini bagus untuk me numbuh- kembangkan kreativitas para petani kopi dan pemuda di desa dan sekaligus sebagai lahan untuk membuka lapangan pekerjaan yang dapat menggairahkan perekonomian di desa-desa tersebut. Juga dengan itu dapat dicegah perpindahan penduduk dari desa ke kota atau urbanisasi untuk mencari pekerjaan yang belum tentu tersedia di kota sesuai dengan keahlian mereka. Bahkan di kota-besar di Indonesia pun belakangan ini sedang merebak kedai-kedai kopi baru dimana-mana dengan mempergunakan peralatan dan mesin-mesin kopi modern untuk menghidangkan berbagai kopi yang sudah dimodifikasi baik cita rasanya, bau maupun warnanya untuk para muda-mudi penggemar kopi modern yang ada di kota. Ok, begitulah, kurang lebihnya. Jadi jika anda seorang penggemar kopi tradisional yang ingin mencoba kopi Luwak yang asli dan kebetulan sedang mengadakan perjalanan wisata ke suatu tempat di Bali, silahkan, jangan sungkan-sungkan untuk mampir sejenak di tempat-tempat seperti ini dijalan ya. Anggap saja sebagai istirahat sejenak untuk menghilangkan kantuk setelah penat nyetir mobil karena perjanan jauh. Di beberapa tempat bahkan mereka juga menyediakan sarana untuk bersantai dan bersenang-senang seperti tempat untuk ber ayun-ayunan maupun untuk berselfie ria yang menarik-menarik. Mereka akan dengan senang hati menerima kedatangan anda dan keluarga atau teman-teman anda disana. Ok, Selamat mencoba kopi Luwak yang asli dan ber kopi-ria disana bersama...
Read moreIt’s a classic scam place that tour drivers drop you off at “to support a local business.” The woman walked us through a tiny garden (not a plantation) and there’s the depressing sight of a small, very immobile animal in a cage (she said “sleeping” — other scam places say the same thing).
When we turned down her offer to taste their coffee and tea, she looked very surprised. We bought a bag of “ginger tea” for cash payment in her shop. When she gave us the change, she asked if we could give her the change. As we walked out, she asked one of us again if we could give her the change.
The bag of “tea” looked suspicious… no tea leaves, just a golden granular look. If it was dried, powdered ginger root, you would smell it. We opened the bag, and sure thing — it was a bag of sugar for 140 000 rupiah. Kindly ask your tour driver to skip...
Read more