The main dish at Dhapu Kupi is still robusta filtered coffee. Besides that, robusta hot sanger (SP) is also very popular. Sanger is a drink in the form of a mixture of coffee and milk.
AceHTrend observes, the taste of sanger is not the same between one warkop and another. Each Warkop has its own taste.
In Dhapu Kupi, hot sanger is sold for IDR 7,000 per glass. Meanwhile, filter coffee is sold for IDR 5,000 per glass.
Dhapu Kupi is one of the warkop in Banda Aceh that is never empty of visitors. Here, consumers come from various circles. Although it still maintains its traditional concept - noisy, has a television that turns on even though visitors often ignore it, and visitors are free to burn cigarettes - here is also available espresso coffee made from arabica. This Warkop also provides a variety of culinary delights such as Acehnese noodles, various juices and various other snacks.
Because the visitors are very busy, in a day, filter coffee baristas switch up to three times. Especially for the night shift, there are only two people. This shop also serves the purchase of coffee in...
Read moreI really like the taste of Kopi Sanger here. Although some of my friend said that it has a more bitter-coffee taste than Sanger in other places, but in my opinon, it is delicious, and has a good balance with the amount of the condensed milk.
Aaand, dont forget to try their snack called "roti isi kacang". A flat dough bread, filled with sweet mung bean paste, and fried in oil. That's the best snack to pair with a coffee.
Although they're open in 24 hour, the best time to come here is in the morning because the snacks is still complete. They also serve some heavy meal such as Lontong Sayur (rice cakes in spicy coconut based soup containing vegetables and boiled egg) and the delicious Nasi Gurih (Steamed rice cooked in coconut milk and a lot of fragranted spices, served with fried egg, or chicken/fish "rendang").
But yeah, they need to pay more attention of te floor. I tought it's so dirty. They also should provide a non...
Read morePagi itu, akhir pekan lalu, Tarmizi sang pemilik warung bergabung dengan beberapa orang dalam satu meja. Mengenakan baju putih, Tarmizi larut dalam obrolan santai bersama pengunjung. "Mereka rakan Dhapu Kupi. Mulai dari pengusaha, pengawai negeri dan notaris, sebelum ke kantor ngopi dulu disini," kata Tarmizi yang akrab disapa Bang Midi.
Pagi adalah jadwal rutin bagi Midi mengunjungi gerai kopi miliknya. Jika mencari Tarmizi, gampang. Cari saja mobil grand vitara putih bertulisan Dhapu Kupi di bagian sampingnya. Itulah mobil milik Midi yang dibeli dari hasil usahanya. Tak hanya itu, dari kerja kerasnya membangun bisnis dari nol, di usia 44 tahun, Tarmizi telah meraup omset mencapai Rp 2 miliar per bulan.
Jiwa dagang pria ramah itu turun dari orang tuanya. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Tarmizi sering menemani orang tuanya berjualan barang-barang kelontong di Simpang Tiga, Pidie. Dari situlah ia pelan-pelan mengenal seluk-beluk berdagang.
Ia mulai merintis usaha sendiri sejak masih duduk di bangku kuliah pada Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, tahun 1989. Ketika itu, sebagai mahasiswa ia menyewa satu kamar kos di Perumnas Lingke, Banda Aceh. Kebetulan, di samping kamarnya ada satu kios kecil. Melihat ada peluang usaha, Midi nekat menyewa kios itu. Modalnya? “Saya minta pinjam dari orang tua sebesar Rp 1,5 juta,” kata Midi. Dhapu Kupi menawarkan warna baru dibandingkan warung kopi yang lain di Banda Aceh. Dirancang dengan konsep terbuka, pengunjung bisa menikmati suasana jalan simpang empat Simpang Surabaya dari lantai dua selama 24 jam. Menariknya, dari Dhapu Kupi, konsep warung kopi dua lantai menjalar ke tempat lain. "Kami yang pertama berhasil membawa pelanggan duduk di lantai dua." Kini, hampir semua warung kopi di Banda Aceh menyediakan kursi dan meja untuk pelanggannya di lantai dua.
Melihat bisnis warung kopi yang menjanjikan, Tarmizi nekat membuka cabang di daerah Punge. Meski sibuk di bisnis kopi, ia masih juga menyempatkan diri mengurus bisnis minimarketnya.
Tarmizi mengaku tidak punya kiat khusus dalam mengelola sejumlah bisnisnya. Dia menjalaninya seperti air mengalir. Di semua bisnisnya, kini Midi hanya mengontrol dan mengatur pengelolaan. "Pasti ada hambatan sana-sini, jadi harus pandai mencari celah. Jadi jangan dipaksakan, kita jalani saja kalau nanti sudah mentok kita geser ke samping," ujarnya.
Dari bisnis minimarket dan warung kopi, Midi kini menampung 49 tenaga kerja. Baginya, membuka peluang kerja bagi orang lain merupakan kebahagiaan tersendiri. Itu sebabnya, menjadi pegawai negeri tidak pernah masuk dalam daftar cita-citanya.
“Cita-cita saya hanya ingin membuka lowongan kerja dan menyejahterakan karyawan,” kata Tarmizi. []
Sumber...
Read more