Tidak ada niatan untuk mendiskreditkan bisnis orang lain atau iseng atau benci. Pun saya bukan pendekar kopi, saya cuma homebrewer yang alatnya pun wes tak dol kabeh. Ini hanya surat terbuka yang ingin saya sampaikan kepada Ailen Coffee Roastery. Setelah akhirnya melalui pesan pribadi selama 22 hari tidak menemui penjelasan apa-apa.
Ini bermula saya sedang sakit gigi, dan ini sudah 11 hari semenjak saya menjalani operasi bedah gigi. Karena ngeyel pengen ngopi di saat sakit gigi. Terpaksa saya menambal gigi yang berlubang dengan kapas yang dituangi obat kakatua, yang rasanya memang tertinggal 1-2 hari lamanya. Dan tentunya hal tersebut sangat memengaruhi indera perasa, kopi rasanya campur obat tapi gapapa yang penting tetap menjaga kafein tetap mengalir.
Saya takutnya dikira udah meminum kopi selama dua minggu kok gak complain pas deket-deket saja? Kalau gak enak kenapa diminum?
Saya memang biasanya salalu memesan roast bean yang sudah di grinder untuk V60 dari Ailen, kurang lebih selama 6 bulan dengan jumlah yang berkurang dan bertambang di angka 500gram.
Bulan lalu saya memesan Kerinci Lactic dengan jumlah seperti di atas, ini pesanan kedua Kerinci Lactic saya. Karena memang bean bulan sebelumnya memanglah enak maka saya memutuskan pesan untuk kedua kalinya.
Yang merasa Kerinci Lactic ini berbeda (dibaca; pahit dan ada rasa getahnya) bukan saya, melainkan teman kantor saya. Ya, saya pesan kopi Ailen buat di kantor. Saya tidak percaya dan tidak ngeh, akhirnya saya coba minum lagi dengan mencabut kapas yang terselip di gigi berlubang tersebut lantas berkumur. Ternyata memang berbeda, mungkin karena cara seduh yang salah karena gak pakai termo atau hal lain.
Setelah itu saya membawa pulang beberapa biji kopi yang sudah digiling tersebut dan mencoba membuatnya di rumah, alhasil sama saja. Saya bertanya kepada barista Ailen dengan resep seduh yang direkomendasikan, hasilnya sama saja. Saya bawa ke kedai kawan dan dicoba bersama, rasanya sama saja.
Mungkin melalui review ini, keluhan saya bisa didengarkan walau ya sudah lewat 22 hari. Saya tidak ingin saja kejadian serupa yang saya alami dirasakan pelanggan lain atau homebrewer lain atau dilakukan lagi oleh Ailen. Memang saya gak paham betul kopi saya gak pernah ngebar di kedai saya hanya homebrewer yang gemar saja minum kopi. Tapi apakah iya harus begini.
Saya sebenarnya kurang suka cara seperti ini. Tapi mungkin cara ini untuk belajar bersama.
P.S: saat review ini ditulis kopi Kerinci Lactic Ailen sudah habis dan memang tetap...
   Read moreMicro coffee roastery beautifully set in a historic building in one of the small streets in Kotagede. They roast their beans on the premises, all beans are sourced from small scale coffee farms throughout the archipelago. I drank a cappuccino with less milk ( I like my coffee strong) and it slapped! Flavour notes of the Ciwidey beans from West Java were on point. Full bodied with dark chocolate layers and a light fruitiness in the end in combination with creaminess of the milk foam gave the best cup of coffee I drank in Yogyakarta so far. Brewed in an old skool percolator on the stove. Slow coffee on...
   Read moreSmall cute, motorcycle only access, no sandals inside.
Due the fact within heritage areas and house, it got something. Kotagede hidden gems, call it.
Cappuccino is good, but should a bit less milk in it, and topped with more froth. Personally like a stronger espresso taste, less milk as in standard one, not as double espresso.
They have 2 kind of cake vendors, with 5k each. you may want to revisit as it doesn't really match with the coffee for the...
   Read more