Ironisnya, semboyan Tua gereja nya tapi muda semangat nya tampak nggal berlaku di sini. Seolah gereja semakin tua dan tua dan tinggal menunggu ajal.
mudika yang sempat berjaya di era rm Hersemedi menjadi layu di bawah kepemimpinan paryanto.
paryanto kurang peduli pada keselamatan umat dan nekat untuk membuka misa offline ketika pandemi masih berlangsung. Sambil mengancam bahwa wilayah yang belum siap tidak akan dilayani olehnya. Dan ketika bada covid menghantam lebih dahsyat, banyak nyawa yang hilang secara tidak langsung oleh tangannya. Semua demi ambisi menjadi GEREJA PERCONTOHAN. Bahwa dia lupa, sepandai pandai nya kita berjaga diri tetap akan terkena bila orang lain tidak hati2.
ada rasa anti teknologi dimana mereka tidak percaya pada penggunaan gadget dalam pelayanan. Contohnya sebagai pengganti partitur dalam paduan suara. Penggunaan QRIS alih2 kantong kolekte yang disebar yang malah memfasilitasi kuman, virus, dan bakteri untuk pindah.
pada akhir masa endemi, penguasa paroki saat itu, Paryanto, giat MENYURUH kaling dan kawil untuk mengobrak umatnya agar hadir dalam misa. Namun tidak disertai dengan insentif (non materi) yang membuat umat mau hadir.
tidak juga memikirkan keselamatan umat dengan tetap mengadakan misa khusus di jam larut. Apakah harus jatuh korban begal dll agar dievaluasi? Saya rasa tidak. Pada covid saja mereka tidak pedul dan hanya mementingkan gereja percontohan. apalagi pada begal.
romo paroki lebih suka menina bobokan umat dengan lagu liturgi yang mudah daripada yang jarang dinyanyikan (tapi masih dalam puji syukur). Alasannya karena umat tidak familiar. Karena itu umatnya gak maju2.
hampir tidak ada program yang digagas untuk meningkatkan petugas liturgi. Berharap dengan mengadakan lomba, kelompok pelayanan akan berusaha maksimal. Tidak diberi fasilitas pelatihan dari gereja. Saat ini baru organis saja yang jalan. Bagaimana ddngan dirijen dan pelatihan vokal? intinya, ingin maju tapi nggak dididik. disuruh swadaya gitu aja.
ada banyak program evangelisasi tapi lupa mendidik bagaimana bersikap dalam perayaan ekaristi. Katekese umat tidak lah lebih dari sekedar ceramah pak rt. Selain menggunakan bahasa formal dan hanya terkesan membaca. Saya ingat waktu ide ini digagas di awal, dan pak edy membawakan dengan sangaat baik.
kalau bikin lomba lomba entah 17an entah lomba HUT, selalu aja ada aturan yang dibuat tapi dilanggar sendiri. tapi hal seperti ini sepertinya sudaj lumrah sejak kepanitian di jaman rm Sapto dan mgkn sebelum sebelumnya.
final verdict. di sini nggak masalah ikut misa dan menikmati sebagai rakyat jelata biasa. tapi untuk ikut dalam jajaran yang mengembangkan gereja, kepanitiaan, dll, urungkan niatmu....
Ā Ā Ā Read moreThe Catholic Church of the Nativity of the Blessed Virgin Mary is one of the oldest Catholic churches in Surabaya. The church was established in 1900 with the architectural design by W. Westmaas from Semarang and was officially inaugurated on August 5, 1900. Before this church was built, the first Catholic church in Surabaya dedicated to the Blessed Virgin Mary was established in 1822, marking the beginning of Catholic ministry in Surabaya since 1810. This church is part of the Diocese of Surabaya, and the current priest serving there is Father Paulus Jauhari Atmoko C.M. The church building stands adjacent to the SMA Katolik Frateran Surabaya (a Catholic high school) and is often referred to as the Kepanjen Church.
I attended mass on Saturday evening at 6pm n was surprised that it was not packed w Christians. Itās a beautiful church, destroyed during the...
Ā Ā Ā Read moreGereja Katolik kelahiran Santa Perawan Maria merupakan gereja katolik tertua di Kota Surabaya. Gereja ini telah berdiri sejak 1900 dan menjadi pusat peradaban Katolik di Surabaya dari masa ke masa. Karena usianya yang sudah sangat tua, gereja ini memiliki sejarah yang kompleks.
Di beberapa artikel disebutkan bahwa gereja katolik tertua di Surabaya di bangun pada tahun 1811. Memang benar pernah ada gereja katolik pada tahun itu yang menjadi pusat perkembangan perdaban katolik. Namun, seiring berjalannya waktu, gereja tersebut sudah tidak mampu menampung jemaat, ditambah lagi dengan kondisi gereja yang sudah mulai rusak. Hingga akhirnya diputuskan untuk membongkar gereja tersebut dan membangun gereja yang baru di lokasi yang baru.
Pada tahun 1889, Pastor C.W.J. Wenneker membeli sebidang tanah dari pemerintah kolonial seharga 8.815 gulden di sebelah utara gereja lama untuk membangun gereja baru yang lebih besar. Pembangunan gereja baru dimulai pada 18 April 1899 dengan desain arsitek W. Westmaas dari Semarang, yang sebelumnya terlibat dalam rekonstruksi Gereja Blenduk di Semarang pada tahun 1894. Gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur Neo-Gotik, menggunakan fondasi tiang pancang sedalam 16 meter untuk menyesuaikan dengan kondisi tanah yang kurang stabil. Sebanyak 799 tiang pancang dari kayu galam Kalimantan digunakan, dan bata merah diimpor dari Eropa. Kolom dan furnitur asli terbuat dari kayu jati. Pembangunan gereja selesai pada 5 Agustus 1900 dan diberkati oleh Vikaris Apostolik Batavia, Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen SJ, dengan nama "Onze Lieve Vrouw Geboorte Kerk" (Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria).
Secara visual, gereja ini sangat indah. Interior dari gereja ini juga tak kalah indah. Gereja ini dihiasi dengan beberapa kaca mozaik yang sangat cantik dengan gambar, lambang, dan simbol yang menjadi perlambang akan kejayaan dan kemewahan dari peradaban Katolik (Eropa). Di belakang gereja terdapat Goa Maria yang dikelilingi oleh tanaman rimbun yang membuat suasana menjadi tenang dan hening. Di samping gereja dekat pos jaga, terdapat semacam museum mini yang menyimpan barang-barang asli gereja yang usianya hampir sama dengan gereja.
Penjaga di sini sangat ramah dan terbuka dengan para wisatawan. Bahkan kita juga bisa diberikan izin bahkan diantar untuk berkeliling kompleks gereja. Namun perlu diingat bahwa gereja ini masih aktif sehingga ketika ada kegiatan ibadah gereja ini tidak bisa dikunjungi. Kalian hanya bisa melihat kemegahan gereja ini dari pagar depan. Hal ini dilakukan supaya kegiatan ibadah dapat berjalan...
Ā Ā Ā Read more