Operated in an infamous historical building from VOC period known as Toko Merah. Amongst most prominent look of historical building along the Kali Besar canal, considered as heritage building owned by private. History mention this was the house of a Governor General on duty in his time. Actually a twin house, that has been switch owners a couple of time, yet change functions as well. Once was a bank which you can still see it cashier area remnants. Then once a casino, was a famous chinese restaurant which you can find a high quality embroidery wall paper with golden strings & dragon phoenix pattern. Ask for the history to appreciate more of this pretty heritage. Its wooden roof structure was renovated 1930, almost a century since its last big renovation works. This building needs a serious heritage conservation works to be able to use adaptively. Some parts need structural strengthening. Second floor could only holds up to max 20ish person load. Now some space is rented to Rode Winkel as resto. Coffee and snacks are decent amongst other cafe at Oud Batavia district, food just ok. Also, amongst proper place and affordable ones. With beautiful view to the Grand Canal/ Kali Besar. I came at weekend, not so crowded. Need more a cafe based heritage management to boost sales, visit and historical value. Do learn some precedence from similar cafes. Personally i hope this place could upgrade thus sustain. We need a proper cafe like this in...
Read moreSecara keseluruhan, Rode Winkel dibuka terlalu cepat sebagai restoran sebelum mereka sepenuhnya siap. Animo masyarakat yang begitu tinggi terhadap Toko Merah tidak/belum dapat dijawab oleh Rode Winkel.
Hanya sekitar 20% lantai 1 Toko Merah yang sudah beroperasi sebagai dining area (plus service area). 80% area lantai 1 masih kosong area lantai 2 sama sekali belum dipakai. Sehingga kapasitas Rode Winkel sangat kecil, dan hal ini tidak dipublikasikan secara terbuka dalam publikasi promosi Rode Winkel. Akibatnya, antrean reservasi mengular luar biasa. Hal yang seharusnya tidak perlu terjadi jika tempat ini beroperasi, minimal, saat 100% area lantai 1 sudah siap sepenuhnya.
Opsi dan stok makanan Rode Winkel sangat sedikit. Saat datang dan duduk di meja reservasi saya pada pukul 16.30, saya tidak segera mendapat daftar menu. Setelah berusaha menunggu selama 10 menit dan terlihat memang saya tidak akan dibawakan menu, akhirnya saya memanggil salah satu waiter, dan barulah saya dibawakan secarik QR code yang bisa saya pakai untuk mengakses menu. Kesan pertama yang sedikit membuat dahi berkernyit, tapi okelah. Saya tidak mau terlalu mempermasalahkan soal ini.
Saya baru benar-benar bertanya-tanya ketika saya melihat daftar menu di Rode Winkel. Saya berekspektasi masih banyak menu yang bisa dipilih karena saya datang sebelum jam makan malam, sementara Rode Winkel buka hingga pukul 22.00. Namun, opsi menu yang saya punya sangat terbatas. Banyak sekali menu yang sold out, baik makanan berat, minuman, ataupun side dish. Bahkan, opsi makanan berat seingat saya hanya tersisa 3 pilihan: nasi goreng kampung, mie goreng kampung, dan nasi dori sambal matah. Jelas saya mempertanyakan manajemen stok dapur di tempat ini. Rode Winkel berani buka hingga pukul 22.00, tetapi di pukul 16.30 pun, banyak menu sudah sold out. Menurut saya, Rode Winkel perlu menambah varian menu dan mengatur ulang stok sesuai jam operasional harian mereka.
Sementara itu, saya juga membuat perbandingan dari harga-rasa-porsi di tempat ini. Menurut saya, harganya sedikit di atas rata-rata, tetapi masih dalam batas yang bisa dimaklumi untuk restoran yang mengambil tempat di Toko Merah. Rasa sajian, saya akui enak dan not bad, meskipun belum sampai taraf istimewa. Sayangnya, porsi menu di tempat ini terkesan pelit sekali. Porsi sajian di Rode Winkel bahkan lebih sedikit dari porsi standar di restoran-restoran lain yang selevel dengannya. (NB: Karena ketersediaan menu yang amat terbatas, saya hanya bisa memesan nasi goreng, mie goreng, pisang goreng wijen, hot lemon tea, dan iced mango peach tea. Saya agak kecewa tidak memesan kopi di 'coffee and savoury' ini karena banyak pilihan kopi favorit saya yang sold out.)
Dari kenyamanan meja-kursi, saya merasa sedikit ada hal mengganjal, sebab ketinggian meja-kursi di Rode Winkel ini tidak sepenuhnya ergonomis. Bagi saya, meja di tempat ini terlalu tinggi/kursinya terlalu rendah. Sementara ini, dari sisi kenyamanan suara, penempatan area bar di salah satu dining area terasa tidak nyaman. Sebab, terasa noice sekali suara preparasi minuman (blender, mesin kopi, obrolan) yang sampai terdengar keras di dining area.
Ketersediaan fasilitas wajib seperti toilet/wastafel dan mushola di tempat ini menurut saya sudah bagus. Tempatnya bersih, terang, dan cukup lega. Hanya saja, posisi mushola yang berada di sudut belakang bangunan dan di dekat dapur membuat orang harus mengakses lorong gelap Toko Merah yang belum selesai renovasi. Mungkin hal ini bisa membuat sebagian orang enggan mengaksesnya. Sayangnya, saya lihat tidak ada petugas keamanan yang sigap dengan payung untuk mengantar/menjemput pengunjung dari/ke mobil. Padahal tidak ada drop-off area berkanopi di Rode Winkel. Fasilitas sederhana ini akan sangat bermanfaat di musim penghujan.
Kesimpulan saya, cagar budaya Toko Merah jelas membawa atmosfer ⭐⭐⭐⭐⭐ bagi restoran ini. Namun, Rode Winkel harus membenahi banyak hal agar orang yang datang karena mengagumi keindahan Toko Merah tidak pulang dengan menyimpan rasa kecewa dan masygul setelah datang ke...
Read moreI came here to do a quick "work from cafe". Located inside a historical building "Toko Merah", you will be greeted by a friendly security man upon entering the building. Entering this building is like throwing you back to the Dutch colonial period. They have AC and non-AC area but not sure if you can smoke in the non-AC area. Wifi is provided here, but they don't have many electric sockets. The toilet is very clean as well.
For the price, it's pretty fair. I ordered their palm sugar coffee "Kopi Rode" (IDR 27k) and a tiny cup of Espresso (IDR 25k, served with a cookie). Not too cheap, but also not too expensive as you also can enjoy the interior of the building. Unfortunately, they only accepted cash for under IDR 50k purchase (which made me have to order more since I didn't have cash).
For not an expert coffee like me, the Kopi Winkel tasted nice although it was a little too sweet for me (but I'm not blaming them since I'm not a big fan of sweet taste, so the problem is on me). I think it would be nice if they serve double shot espresso Kopi Winkel.
Overall, it's very good. Great coffee, great atmosphere. It would be much better if they could accept any payment method without minimum purchase and provide...
Read more