Pengurus yg sekarang amat sangat mengecewakan krn memanfaatkan jabatan dengan melakukan kebohongan publik : mengadakan kegiatan sembahyangan untuk kepentingan pribadi. Umat dr luar yg datang di rayu untuk berdana, kemudian hasil dana nya dipakai utk makan2 dan bikin seragam oleh pengurus sendiri. Semua di monopoli oleh segintir orang yg mengaku sbg pengurus Yayasan. TIDAK PERNAH ADA pembinaan rohani / ceramah Dhamma. Yg ada hanya Nien Cing saja shg umat tidak ada kesempatan utk bertanya jawab dgn rohaniwan. Diskrimasi sosial (yg kaya dan miskin dibedakan perlakuannya)
MOHON BERHATI-HATI bila akan berdana di sini. Sudah banyak umat yang mengeluh (walaupun antar sesama umat) tapi tidak berani menyampaikan, mereka hanya "Nrimo" saja. Mungkin karena umat sudah kelas orang-orang tua. Kasihan sebenarnya krn terus diperdaya oleh pengurusnya. Kasus sengketa tanah 2023 yg mana wihara dlm posisi kalah mrp pelajaran utk kita semua. Drpd wihara bayar ganti rugi sd miliaran, buat beri makan umat yg membutuhkan gak akan sampai sebesar ganti rugi yg harus dibayarkan. Karma baikmu malah bertambah. Ada sebab ada akibat. Coba flashback lagi ke belakang dimasa sebelum kasus ini bergulir, banyak pengurus sering menyakiti umat salah satunya soal konsumsi. Mau makan saja umat sd harus mengemis. Ditahan2 makanannya, tidak dikeluarkan sd banyak umat yg melongo.
Walaupun sekarang pengurus lama telah diijinkan kembali berkiprah dan Covid mereda, JIWA SERAKAH NYA TETAP DOMINAN. Buktinya masih ada KONSUMSI YG DISEMBUNYIKAN & DITAHAN. Hanya orang2 tertentu di "geng"nya yg boleh ambil. Apakah pengurus konsumsi itu khawatir klo masakannya gak sisa dan gak dapat jatah utk dibawa pulang atau bgmn ? Saran saya klo mau berubah jd baik jgn tanggung2 (hanya utk pencitraan).
Note : Bila ada yang masih ragu dengan tulisan saya, bisa menghubungi saya dg membalas postingan ini karena saya bisa mempertanggungjawabkan tulisan...
Read moreVihara Amurva Bhumi, atau yang juga dikenal sebagai Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin, merupakan salah satu vihara tertua di Jakarta. Terletak di kawasan perkantoran yang ramai, vihara ini telah menjadi tempat peribadatan dan pusat kegiatan umat Buddha selama lebih dari seabad.
Dibangun pada awal abad ke-20, Vihara Amurva Bhumi memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Bangunannya yang khas dengan arsitektur Tionghoa tradisional, mencerminkan perpaduan antara budaya Tionghoa dan lokal. Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, vihara ini masih mempertahankan keaslian dan nilai historisnya.
Sebagai tempat ibadah, Vihara Amurva Bhumi menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi umat Buddha. Vihara ini juga menjadi pusat kegiatan budaya Tionghoa, seperti perayaan Imlek dan festival-festival lainnya. Dengan sejarahnya yang panjang, vihara ini menjadi salah satu landmark sejarah di Jakarta. Meskipun berada di kawasan yang sibuk, suasana di dalam vihara terasa sangat tenang dan damai.
Secara keseluruhan, Vihara Amurva Bhumi adalah lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia merupakan warisan budaya yang berharga dan menjadi simbol keberagaman di Jakarta. Keberadaannya terancam oleh sengketa lahan, namun semangat pelestarian budaya terus berkobar di hati umat Buddha dan masyarakat yang peduli.
Disclaimer dan Saran untuk Pengunjung Vihara Amurva Bhumi untuk ulasan saya tentang Vihara Amurva Bhumi berdasarkan pengalaman pribadi saya. Perlu diingat bahwa pendapat setiap pengunjung bisa berbeda-beda.
Semoga informasi...
Read moreA calm temple located in bustling business district area of Jakarta. I love to pray there because the facilities are complete and clean, you could pray comfortably here without much distraction. The temple's staffs are helpful and warm too. For the first timer who want to go there please enter by the entrance at the front of jalan Prof Dr Satrio instead of now closed-down gate near...
Read more