I visited for dinner with a medium size group (8 people).
They had enough tables and chairs for some groups dining in.
Overall, I would give 5/5 for food but 4/5 for place. It is to be expected to eat satay and have a post-smell but I was very disturbed with the cat. Couldnt eat comfortably when knowing a cat is watching you eat haha. The staff was helpful tho to make sure the cat went off.
I ordered chicken satay, they only put the meat, doesnt include the skin nor fat. All the sauce was well marinated, peanut sauce was served separately.
There were 2 consistent street musicians who sang the whole time I ate there.
Parking was okay, it was dark in the area if you are coming at night.
Also available on GoFood but of course it is more expensive and they didnt have any discount the last time I checked...
Read moreBeberapa bulan lalu saya berwisata ke Kota Bandung, dengan bantuan mbah google saya mencari rempat sate yang enak dan tempat ini menduduki peringkat atas di hasil pencarian. Namun dalam kenyataanya tempat ini susah ditemukan dengan google maps. Sudah beberapa kali mencari tapi tidak ketemu dan saya relakan tempat ini untuk tidak dikunjungi.
Hari ini saya transit di Bandung naik bus kemudian naik kereta di Stasiun Bandung. Kenangan akan susahnya cari Sate Hadori ini kembali menyeruak dan saya melakukan pendekatan yang berbeda dalam pencarian. Kali ini saya pakai GPS(gunakan penduduk sekitar) dan ya ampun itu warung sate ada dibelakang parkiran stasiun, ga bakalan kelihatan soalnya ketutup tembok gede.
Dan disinilah cerita saya dimulai. Di warung ini sate disajikan terpisah dengan dua alternatif bumbu kacang dan bumbu kecap. Untuk sate polosan rasanya sangat enak dengan aroma daging terbakarnya, sangat cocok untuk para bule-bule yang kangen dengan daging bakar dengan bumbu yang minimalis dan kaya aroma daging.
Untuk bumbu kacang, secara personal saya tidak terlalu suka daging kambing dicampur dengan bumbu kacang. Daging dengan rasa yang berat, rasanya susah bersatu dengan bumbu kacang yang berasa berat juga (kecuali di sate buntel Hj. Bejo Solo)
Untuk bumbu kecapnya saya tidak terlalu suka, ada after taste kecut kecut gitu deh.
Dengan berat hati, ekspektasi terlalu tinggi, shame on you google!! Saya memutuskan pulang.
Tapi berhubung saya masih lapar jadi saya nekat tambah gulai setengah porsi saja. Iya,,, GULAI!!! Masakan paling cupu di warung sate, yang dibuat cuma untuk diambil kuahnya buat dijadikan kuah tongseng kemudian. Selang 10 menit datanglah itu, masakan yang tak jelas itu. Gulai dengan kuah merah beserta 3 tulang kaki dengan sedikit daging dan urat menempel. Seruputan kuah pertama begitu nendang, sihir adalah penjelasan terbaik untuk membuat rasa seperti ini. Daging gulainya empuk, urat urat itu selalu mengelak manja saat digigit. Tapi yang menjadi jurus ke 4, ULTIMATE, baru bisa diambil di level 6, 11, dan 16 adalah sumsumnya. Dicampur dengan kuah dan diseruput dengan sedotan membuat saya lupa kalau harus naik keteta pulang, demikianlah "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru." ...
Read moresatay hadori is sundanese style satay served with with spicy sweet soy sauce and peanut paste (resembles one in the batagor, another sundanese style cuisine).
taste of the satay (and gulai) is average at the best. In my oppinion, Satay maranggi, another sundanese style cuisine, is way more tasty than this.
the one that make me only give 1 star our of 5 is because its price. I expected the satay with taste like this should be priced around IDR 25-30K. this satay is priced about twice of that. it is way more expensive for that mediocore taste. this makes me mad and I vowed that I will not buy this satay again.
you can easily found satay with better taste and cheaper price than this satay hadori in random location in...
Read more